Minggu, 26 Agustus 2012

PERADABAN ISLAM DI MONGOL

PERADABAN ISLAM DI MONGOL

Jatuhnya Kota Baghdad pada tahun 1258 M, ke tangan bangsa Mongol bukan saja
mengakhiri khilafah Abbasiyah, tapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik
dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan perandaban Islam
yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap di
bumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan.

A. Asal-Usul Bangsa Mongol
Bangsa Mongol berada di wilayah pegunungan Mongolia, berbatasan dengan Cina di
Selatan, Turkestan di Barat, Manchuria di Timur, dan Siberia di sebelah Utara (Ambari,
1993:97). Kebanyakan dari mereka mendiami padang stepa yang membentang di antara
pegunungan Ural sampai pegunungan Altai di Asia Tengah, dan mendiami hutan Siberia
dan Mongol di sekitar Danau Baikal (Bosworth, 1993:187).
Dalam rentang waktu yang relatif panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana
mereka mendirikan perkemahan dan berpindah dari satu tempat ketempat lain,
menggembala kambing, berburu. Mereka hidup dari hasil perdagangan tradisional yaitu
mempertukarkan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Kesehariannya,
sebagaimana dipredikatkan pada sifat nomad,mereka mempunyai sifat kasar, suka
berperang, berani mati dalam mewujudkan keinginan dan ambisi politiknya. Namun,
mereka sangat patuh dan taat pada pimpinannya dalam satu bingkai agama Syamaniyah,
yaitu kepercayaan yang menyembah bintang-bintang dan matahari terbit (Yatim, 2003:111-
112).

Namun demikian, ada satu pendapat yang mengatakan bahwa bangsa Mongol
bukanlah suku nomad sebagamana dimaksud, tetapi satu bangsa yang memiliki
ketangkasan berkuda yang mampu menaklukkan stepa ke stepa, akibatnya kehidupan
mereka berpindah-pindah mengikuti wilayah taklukannya dibawah kepemimpinan seorang
Khan. Khan yang pertama dari bangsa Mongol itu adalah Yesugey, ayah Chinggis atau
Jengis.
Runtut etniknya berasal dari nenek moyang yang bernama Alanja Khan yang
dikaruniai dua orang putera kembar yaitu Tartar dan Mongol. Dari kedua putera ini
melahirkan dua keturunan bangsa, yaitu Mongol dan Tartar. Dari yang pertama lahirlah
seorang bernama Ilkhan yang di kemudian hari menjadi pemimpin bangsa Mongol.
Pada masa kerajaan Mongol dipimpin oleh Ilkhan dan Tartar oleh Sanja Khan,
keduanya berselisih hingga perselisihannya membawa kepada peperangan yang berakhir
dengan kemenangan Sanja Khan dari Tartar. Maka kerajaan Mongol selanjutnya berada
dibawah kekuasaan Tartar. Kemudian setelah kerajaan Mongol kuat kembali, mereka
menggulingkan kekuatan Tartar dan tampil sebagai penguasa kerajaan-kerajaan yang ada.
Pada abad ke 12, Mongol dipimpin oleh Yasughi Bahadar Khan. Ia mempersatukan 13
suku dari ras Mongoloid. Kemudian membentuk suatu kekuatan militer yang amat tangguh
sehingga ditakuti oleh daerah-daerah sekitarnya. Sepeninggal Yasughi kerajaan dipegang
oleh Temujin (1167-1227 M) putranya sendiri yang ketika naik tahta masih berusia 13
tahun. Sekalipun relatif muda ia sangat ambisi untuk menguasai wilayah diluar Mongolia.
Sebelum memenuhi obsesinya itu ia melakukan konsolidasi intern dengan memperkokoh
dibidang militer.

Pada tahun 1206 M, Temujin mengadakan pesta besar-besaran bersama kepala suku
yang berada dalam persekutuannya yang dihadiri oleh pemuka agama dan tokoh
masyarakat. Pada saat itulah pemuka agama mengatakan bahwa “langit” telah memberikan
gelar “Jengiz Khan” pada Temujin yang berarti raja yang kuat dan perkasa. Pada saat itu
pula Jengiz Khan mengumumkan undang-undang yang disebut “al-Yasuk” yang mengatur
kehidupan rakyat dan semua kerajaan yang berada dalam konfederasi Mongol.
Dalam memenuhi obsesinya, pertama-tama ia berusaha untuk menguasai Cina. Pada
tahun 1215 M, ia dapat menduduki Peking (Ibu kota Cina, Beijing). Setelah itu dia
konsentrasi ke sebelah Barat wilayah yang dihuni oleh umat Islam. Yang ia lakukan
pertama, mengadakan kontak dagang dengan pihak Khawarizm sebagai usaha untuk
mengenali situasi dan kondisi kekuasaan Islam di Asia Tengah. Ala’ Uddin Muhammad
Khawarizm menerima kontak diplomasi perdagangan ini dengan amat hati-hati, sehingga
tidak lama kemudian para pedagang Mongol yang beroperasi di pasar utara ditangkap oleh
penguasa lokal karena dicurigai sebagai mata-mata. Tetapi alasan yang dikemukakan oleh
penguasa utara adalah para pedagang Mongol tersebut melakukan tindakan kasar yang
merugikan pedagang setempat.
Hal ini menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari Jengiz Khan. Ia meminta pada Ala’
Uddin untuk menyerahkan penguasa utara tapi Al’ Uddin menolaknya. Hal ini menjadi
alasan bagi Jengiz Khan untuk menyerang Dinasti Khawariz, tetapi pertempurannya tidak
membawa hasil.

Pada tahun 1220 M, Jengiz Khan bersama pasukan datang ke Bukhora untuk
melakukan serangan terhadap Khawarizm dan dimenangkan pasukan Jengiz Khan, Ala’
Uddin tidak mampu menahan serangan Jengiz Khan. Ia memerintahkan penduduk
Bukhora meninggalkan kota tanpa membawa suatu apapun kecuali yang melekat di badan,
bagi mereka yang membangkang dan tetap didalam kota aka dibunuh.
Selain itu mereka mengadakan pengrusakan terhadap bangunan-bangunan masjid
dan madrasah, membakar kitab suci dan kitab-kitab lain yang mereka temui dalam
perpustakaan. Ibnu Asia (sejarawan) menyatakan bahwa perusakan tersebut menjadikan
Bukhora rata bagaikan tak pernah ada sebelumnya (Hoeve, 1993:255).

B. Wilayah Kekuasaan Mongol dan Dinasti Ilkhan
Perpaduan antara watak nomad dengan ketangkasannya menunggang kuda, serta
keberaniannya melawan musuh mengantarkan Bangsa Mongol menjadi bangsa penakluk.
Terbukti banyak negara-negara di Dunia yang telah ditaklukkan meliputi kawasan Cina
dan negeri-negeri Islam, khususnya ketika Mongol dipimpin oleh Jengis Khan. Cina bagian
Barat, Tibet, ditaklukkan sekitar tahun 1213 M, dan Beijing tahun 1215 M.
Tiga tahun berikutnya ia dapat menguasai kota Thurkistan yang berbatasan dengan
Khawarizm Syah yang menjadi wilayah Islam. Selanjunya, secara berturut-turut Turkistan
yang juga merupakan wilayah Khawarizm, Bukhara di Samarkhand dan Balkh, serta kotakota
lain yang memiliki peradaban Islam yang tinggi di Asia Tengah tidak luput dari
kehancuran dari serangan bangsa Mongol. Jengis Khan juga mengutus anak-anaknya yaitu
Tulii untuk menaklukkan Khurasan dan Juchi dan Changhatai untuk menaklukkan
wilayah Sri Darya bawah dan Khawarizm (Bosworth, 1993:177).

Sebelum Jengis Khan meninggal Dunia tahun 1227 M, ia membagikan wilayah yang
begitu luas kepada keempat anaknya. Pertama, adalah Juchi anak sulungnya menduduki
wilayah Siberia bagian Barat dan Stepa Qipchaq termasuk juga Khawarizm. Sebelum ia
dapat mempimpin wilayah tersebut ia meninggal Dunia sebelum Jengis Khan. Tetapi
warisan wilayah itu telah diberikan kepada anaknya yaitu Batu dan Orda.
Kedua adalah Chagatay. Wilayahnya meliputi Transoxania sampai ke Turkistan Timur
atau Turkistan Cina. Keturunan Chagatay yang ada di Barat yaitu Transoxania telah
masuk ke dalam kawasan pengaruh Islam, tetapi kemudian dapat dikalahkan Timur Lenk.
Dari Turkistan Timur ia meluaskan daerah ke Serimechye Ili, Tien Syan di Tarim. Mereka
tidak terpengaruh Islam tetapi ikut dalam penyebaran Islam di Turkistan Cina abad XVII.
Ketiga adalah Ogotai. Ia terpilih menjadi Khan Agung mengantikan Jengis Khan.
Setelah mencapai dua generasi, ke-Khan-an Tertinggi disebut keturunan Tohey.
Keempat adalah Tuli. Ia menerima daerah Mongolia. bersama dengan anak-anaknya
Mongke dan Qubilay Khan. Mongke tetap bertahan di Mongolia sebagai Khan Agung dengan
ibukota Qaraqarum dan Qubilay Khan memerintah di Cina yang terkenal dengan Dinasti
Yuan sampai abad XIV. Kemudian digantikan oleh Dinasti Ming yang beragama Budha
yang berpusat di Beijing kemudian mereka bertikai dengan ke-Khan-an Islam di Barat dan
Rusia. Hulagu Khan saudara Qubilay Khan menyerang daerah-daerah Islam sampai
Baghdad.

Setelah Hulagu menaklukkan Baghdad ia mendirikan kerajaan Ilkhaniyah di Persia
atas nama pemerintahan Khan Agung di Mongolia dan Cina dengan gelar Ilkhan dan
membunuh Khalifah terakhir Abbasiyah al-Mu’tasim (13 Februari 1258). Baghdad dan
daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu selanjutnya diperintah oleh Dinasti Ilkhan. Ilkhan
adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu (Nasution, 1985:80). Umat Islam dengan
demikian dipimpin oleh Hulagu Khan, seorang raja yang bergama Syamanism. Hulagu
memerintah sampai tahun 1265 M kemudian diganti oleh anaknya Abaga hingga tahun
1282 M. Ia beragama KRISTEN Nestorian dan bersekutu dengan KRISTEN Eropa, Armenia Cilicia
untuk melawan Mameluk dan saudara-saudaranya dari Dinasti Horde keemasan yang
didirikan Batu anak dari Juchi yang beragama Islam.

Setelah kematiam Qubilay Khan (1294 M), maka wilayah kekuasaannya terlepas.
Mahmud Ghazan yang sudah masuk Islam memerintah Rasyid al-Din al-Thabib dan
Uljaytu agar menuliskan sejarah universalnya. Di bawah pemerintahan Mahmud Ghazna
bersama menterinya Rasyid al-Din al-Thabib banyak mengalami kemajuan. Penguasa
terakhir Ilkhaniyah adalah Abu Said yang berdamai dengan Mameluk tahun 1323 M dan
mengakhiri permusuhan antara kedua kekuasaan itu untuk merebutkan Syiria.
Ilkhaniyah beribukota di Tabris dan Maragha yang merupakan kota perdagangan
antara Timur dan Barat. Selama seratus tahun, Ilkhaniyah di Persia terpecah menjadi
kerajaan kecil seperti Muzafariyyah dan Salaghariyyah di Faris, dan Jalariyyah dengan
ibukota Baghdad.

Dengan kepercayaan dari saudara Moghe Khan, Hulagu dapat mengusai Persia, Irak,
Caucasus dan Asia Kecil. Sebelum menaklukkan Baghdad, pada tahun 1256 M Hulagu
telah menguasai pusat gerakan Syi’ah di Persia Utara. Tahun 1260 M Hulagu juga
menaklukkan Syiria Utara seperti Allepo, Hama dan Hamim. Ketika Hulagu ingin
menaklukkan Mesir ia dapat digagalkan oleh pasukan Mamalik Mesir di ‘Ayn-Jalut di
Palestina (tahun 1260 M).

Wilayah Ilkhaniyah yang berada di Irak, Kurdistan dan Azerbeijan diwarisi oleh
Dinasti Jalayiriyah, tetapi masih memusatkan kekuasaan di Baghdad. Di masa Uways,
pengganti Hasan Agung, ia dapat menaklukkan Azerbeijan, tetapi mendapat perlawanan
dari Dinasti Muzaffariyah dan penguasa Horde keemasan. Tetapi mereka dapat ditaklukkan
oleh Qara Qoyunlu (Domba Hitam) yaitu orang-orang Turkmen yang lari ke Timur akibat
invasi Mongol.
Kedudukan Dinasti-Dinasti ini dapat bertahan sampai datangnya Timur Lenk yang
mempersatukan mereka dengan membentuk Dinasti Timuriyah yang berpusat di
Samarkand (Glasse, 1996:201).
Daerah-daerah kultur Islam yang ada di kawasan Arab yaitu Irak, Syiria dan Persia
Barat telah ditaklukkan Mongol, tetapi Mongol sendiri telah mengikuti atau terserap
dengan budaya Islam.

C. Kerajaan-Kerajaan Kekuasaan Mongol
Kerajaan (negara-negara) yang dikuasai oleh Jengiz Khan pada masa itu sangatlah
banyak dan ia memiliki empat putra maka untuk mengatur negara-negara bawahannya
Jengiz Khan membagi menjadi empat bagian untuk putranya berempat.
. Putra pertama Juchi Khan, dia mendapat bagian Liberia Barat, Stepa Tartar Utara,
Khawarizm. Tetapi 4 bulan berikutnya Juchi Khan meninggal maka digantikan
anaknya Batu Khan. Dialah yang menaklukkan Rusia, Polandia, Bulgaria dan Maghyar
(Eropa Timur) dan dia bermaksud hendak menaklukkan konstantinopel pusat
kerajaan Byzantium pada masa itu. Tetapi sebelum melakukan penjarahan kesana dia
sudah mati.

. Putra kedua Chagatay Khan, mendapat bagian wilayah yang ke timur dari Transxania
sampai ke Turkistan Timur atau Turkistan Cina. Cabang Barat keturunan Chagatay di
Transoxania segera masuk ke dalam lingkungan pengaruh Islam, namun di
tumbangkan oleh Timur. Cabang timurnya di Seminechi dan Ili, Tien Syan. Tarim lebih
tahan terhadap Islam. Namun keturunan Chagatay di timur pada akhirnya membantu
menyebarkan Islam di Turkistan Cina dan mereka berada disana sampai abad ke 17.
. Putra ketiga Ogotai Khan, mendapat kekuasaan di Tartar Tengah dan Tiongkok Utara.
Ogotai inilah yang menyambut gelar ayahnya yang besar “khan”. Ogotai ini pula yang
menurunkan kaisar Kubilai Khan yang terkenal dalam sejarah Tiongkok. Sejak itu
yang berhak memakai gelar “khan” diantara mereka ialah yang jadi kaisar di Tiongkok.
Namun selama dua generasi ke-khan-an tertinggi jatuh ke tangan keturunanketurunan
Tulii Khan.

. Putra keempat Tuli Khan, kepadanya diserahkan tanah Iran, Khurason, Kabul (ibu
kota Afghanistan), juga Heartland kekaisaran Mongol yaitu Mongolia itu sendiri. Yang
mereka kuasai meliputi daerah-daerah taklukan Cina dimana Mongol dikenal sebagai
Dinasti Yuan. Dan memerintah sampai separuh abad ke 14. Daya tarik kultural dan
keagamaan peradaban Cina ternyata kuat bagi khan-khan agung di Peking. Mereka
memeluk agama Budha dan hal ini membuka peluang pertikaian dengan khan-khan
Mongol Asia Barat dan Rusia yang memeluk Islam. Adalah salah satu saudara Kubilai
yaitu Hulagu (anak Toli Khan) yang melancarkan gelombang baru penaklukan ke
Dunia Islam dan mendirikan Ilkhaniyah di Persia dengan demikian ke-khan-an di Asia
Barat, untuk maksud-maksud praktis tak lagi mengakuai kekuasaan khan-khan
Agung di Mongolia dan di Peking.

D. Kemajuan Bangsa Mongol
Pada masa pemerintahan Bahadur Khan, Mongol mengalami kemajuan yang sangat
besar karena pada masa itu, Bahadur berhasil menyatukan 13 kelompok suku bangsa.
Kemudian pada masa pemerintahan Hulagu Khan banyak wilayah yang telah
ditaklukannya. Diantaranya adalah kota Baghdad yang pada waktu dipimpin oleh Khalifah
al-Mu’tashim. Khalifah al-Mu’tashim tidak mampu membendung topan tentara Hulagu
Khan. Selanjutnya Hulagu melanjutkan gerakannya ke Syria dan Mesir. Dari Baghdad
pasukan Mongol menyeberangi sungai Khuprat menuju Syria, kemudian melintasi Sinai.
Mesir pada tahun 1260 M. Mereka berhasil menduduki Hablur dan Gaza.
Selanjutnya pada masa pemerintahan Ghazan, yakni raja yang ketujuh Dinasti
Ilkhan, ia mulai memperhatikan perkembangan peradaban. Ia seorang pelindung ilmu
pengetahuan dan sastra. Oleh karena itu ia mebangun semacam biara untuk para Darwis,
perguruan tinggi untuk mazhab Syafi’i dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium
dan gedung-gedung umum lainnya (Yatim, 1998:117).

E. Sebab-sebab Kemunduran Bangsa Mongol
. Kekalahan pasukan Mongol di bawah panglima Kitbugha atas pasukan Mamalik di
bawah panglima Qutuz.
Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta supaya Sultan
Qutuz yang menjadi raja kerajaan Mamalik untuk menyerah. Permintaan itu ditolak
oleh Qutus dan utusan Kitbugha tersebut dibunuhnya. Tindakan Qutuz itu itu
menimbulkan kemarahan dikalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintas
Jordania meunuju Galilei. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang
dipimpin langsung oleh Qutuz. Pertempuran dahsyat terjadi sehingga pasukan
Mamalik berhasil menghancurkan tentara Mongol pada tanggal 3 September 1260 M.
Hal inilah yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Mongol di Cina.
. Pada saat Mongol diperintah oleh Abu Sa’id 1317-1335 M), terjadi bencana kelaparan
yang sangat menyedihkan dan angin topan dengan hujan es yang mendatangkan
melapetaka. Kerajaan Ilkhan yang didirikan Hulagu Khan akhirnya terpecah belah
sepeninggal Abu Sa’id dan masing-masing pecahan saling memerangi. Akhirnya
mereka semua ditaklukkan oleh Timur Lenk (Hassan, 1989:312).

F. Dinasti Mamalik di Mesir
Kalau ada negeri Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan
bangsa Mongol baik serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk, maka negeri itu adalah
Mesir, yang ketika itu di bawah kekuasan Mamalik. Karena negeri terhindar dari
kehancuran, maka persambungan dan perkembangan peradaban di masa klasik relatif
terlihat dan beberapa di antara prestasi yang pernah dicapai pada masa klasik bertahan di
Mesir.

Mamalik adalah jamak dari Mamlik yang berarti budak. Mereka pada mulanya adalah
orang-orang yang ditawan oleh penguasa Dinasti Ayyubiyyah sebagai budak. Kemudian
dididik dan dijadikan tentaranya. Oleh penguasa Ayyubiyyah yang terakhir, al-Malik al-
Salih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya. Pada
masa penguasa ini mereka mendapat hak-hak istimewa baik dalam karier ketentaraan
maupun imbalan-imbalan material.

Di awal tahun 1200 M, Mesir terancam serangan bangsa Mongol yang sudah berhasil
menduduki hampir seluruh Dunia Islam. Kedua tentara bertemu di ‘Ayn Jalut, dan pada
tanggal 13 September 1260 M, tentara Mamalik di bawah kekuasaan Mamalik di Mesir
menjadi tumpuan harapan umat Islam di sekitarnya. Dinasti Mamalik membawa wacana
baru dalam sejarah politik Islam. Pemerintahan Dinasti ini bersifat oligarkhi militer. Sistem
pemerintahan oligarkhi ini banyak mendatangkan kemajuan di Mesir dan kemajuankemajuan
itu dicapai dalam berbagai bidang seperti konsolidasi pemerintahan,
perekonomian dan ilmu pengetahuan.

Dalam bidang ekonomi, Dinasti Mamalik membuka hubungan dagang dengan Prancis
dan Italia melalui perluasan jalur perdagangan yang sudah dirintis oleh Dinasti Fatimiyah
di Mesir sebelumnya. Jatuhnya Baghdad membuat Kairo sebagai jalur perdagangan antara
Asia-Eropa menjadi lebih penting karena Kairo menghubungkan jalur perdagangan Laut
Merah dan Laut Tengah dengan Eropa. Sedangkan hasil pertanian juga meningkat.
Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan jaringan transportasi
dan komunikasi antar kota, baik laut atau darat.

Di bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan asal Baghdad
dari serangan tentara Mongol. Ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir di antaranya :
Dalam ilmu Sejarah tercatat nama besar seperti Ibnu Khaldun
2. Dalam ilmu Astronomi dikenallah nama al-Din al-Tusi
3. Dalam ilmu Matematika tercatat nama besar Abu al-Faraj
4. Dalam ilmu Kedokteran tercatat nama besar seperti abu al-Hasan
5. Penemu susunan penebaran darah dalam paru-paru manusia dikenallah nama al-
Nafis
Dinasti Mamalik banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek
didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah dan masjid yang indah. Bangunan lain
yang didirikan pada masa ini di antaranya adalah rumah sakit, museum, perpustakaan
dan lain-lain. Kemajuan itu dicapai berkat kepribadian dan wibawa Sultan yang Tinggi,
ditunjang dengan adanya solidaritas sesama militer yang kuat serta stabilitas negara yang
aman dari gangguan.

3 komentar:

  1. Balasan
    1. iyaaa masama
      thanks yaaa udahh mampir :)

      Hapus
  2. sungguh besar kejayaan ilam masa lalu ya...
    saya tunggu kunbalnya gan http://muif-aha.blogspot.com/

    BalasHapus