Minggu, 26 Agustus 2012

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

PERADABAN ISLAM DI MONGOL

PERADABAN ISLAM DI MONGOL

Jatuhnya Kota Baghdad pada tahun 1258 M, ke tangan bangsa Mongol bukan saja
mengakhiri khilafah Abbasiyah, tapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik
dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan perandaban Islam
yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap di
bumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan.

A. Asal-Usul Bangsa Mongol
Bangsa Mongol berada di wilayah pegunungan Mongolia, berbatasan dengan Cina di
Selatan, Turkestan di Barat, Manchuria di Timur, dan Siberia di sebelah Utara (Ambari,
1993:97). Kebanyakan dari mereka mendiami padang stepa yang membentang di antara
pegunungan Ural sampai pegunungan Altai di Asia Tengah, dan mendiami hutan Siberia
dan Mongol di sekitar Danau Baikal (Bosworth, 1993:187).
Dalam rentang waktu yang relatif panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana
mereka mendirikan perkemahan dan berpindah dari satu tempat ketempat lain,
menggembala kambing, berburu. Mereka hidup dari hasil perdagangan tradisional yaitu
mempertukarkan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Kesehariannya,
sebagaimana dipredikatkan pada sifat nomad,mereka mempunyai sifat kasar, suka
berperang, berani mati dalam mewujudkan keinginan dan ambisi politiknya. Namun,
mereka sangat patuh dan taat pada pimpinannya dalam satu bingkai agama Syamaniyah,
yaitu kepercayaan yang menyembah bintang-bintang dan matahari terbit (Yatim, 2003:111-
112).

Namun demikian, ada satu pendapat yang mengatakan bahwa bangsa Mongol
bukanlah suku nomad sebagamana dimaksud, tetapi satu bangsa yang memiliki
ketangkasan berkuda yang mampu menaklukkan stepa ke stepa, akibatnya kehidupan
mereka berpindah-pindah mengikuti wilayah taklukannya dibawah kepemimpinan seorang
Khan. Khan yang pertama dari bangsa Mongol itu adalah Yesugey, ayah Chinggis atau
Jengis.
Runtut etniknya berasal dari nenek moyang yang bernama Alanja Khan yang
dikaruniai dua orang putera kembar yaitu Tartar dan Mongol. Dari kedua putera ini
melahirkan dua keturunan bangsa, yaitu Mongol dan Tartar. Dari yang pertama lahirlah
seorang bernama Ilkhan yang di kemudian hari menjadi pemimpin bangsa Mongol.
Pada masa kerajaan Mongol dipimpin oleh Ilkhan dan Tartar oleh Sanja Khan,
keduanya berselisih hingga perselisihannya membawa kepada peperangan yang berakhir
dengan kemenangan Sanja Khan dari Tartar. Maka kerajaan Mongol selanjutnya berada
dibawah kekuasaan Tartar. Kemudian setelah kerajaan Mongol kuat kembali, mereka
menggulingkan kekuatan Tartar dan tampil sebagai penguasa kerajaan-kerajaan yang ada.
Pada abad ke 12, Mongol dipimpin oleh Yasughi Bahadar Khan. Ia mempersatukan 13
suku dari ras Mongoloid. Kemudian membentuk suatu kekuatan militer yang amat tangguh
sehingga ditakuti oleh daerah-daerah sekitarnya. Sepeninggal Yasughi kerajaan dipegang
oleh Temujin (1167-1227 M) putranya sendiri yang ketika naik tahta masih berusia 13
tahun. Sekalipun relatif muda ia sangat ambisi untuk menguasai wilayah diluar Mongolia.
Sebelum memenuhi obsesinya itu ia melakukan konsolidasi intern dengan memperkokoh
dibidang militer.

Pada tahun 1206 M, Temujin mengadakan pesta besar-besaran bersama kepala suku
yang berada dalam persekutuannya yang dihadiri oleh pemuka agama dan tokoh
masyarakat. Pada saat itulah pemuka agama mengatakan bahwa “langit” telah memberikan
gelar “Jengiz Khan” pada Temujin yang berarti raja yang kuat dan perkasa. Pada saat itu
pula Jengiz Khan mengumumkan undang-undang yang disebut “al-Yasuk” yang mengatur
kehidupan rakyat dan semua kerajaan yang berada dalam konfederasi Mongol.
Dalam memenuhi obsesinya, pertama-tama ia berusaha untuk menguasai Cina. Pada
tahun 1215 M, ia dapat menduduki Peking (Ibu kota Cina, Beijing). Setelah itu dia
konsentrasi ke sebelah Barat wilayah yang dihuni oleh umat Islam. Yang ia lakukan
pertama, mengadakan kontak dagang dengan pihak Khawarizm sebagai usaha untuk
mengenali situasi dan kondisi kekuasaan Islam di Asia Tengah. Ala’ Uddin Muhammad
Khawarizm menerima kontak diplomasi perdagangan ini dengan amat hati-hati, sehingga
tidak lama kemudian para pedagang Mongol yang beroperasi di pasar utara ditangkap oleh
penguasa lokal karena dicurigai sebagai mata-mata. Tetapi alasan yang dikemukakan oleh
penguasa utara adalah para pedagang Mongol tersebut melakukan tindakan kasar yang
merugikan pedagang setempat.
Hal ini menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari Jengiz Khan. Ia meminta pada Ala’
Uddin untuk menyerahkan penguasa utara tapi Al’ Uddin menolaknya. Hal ini menjadi
alasan bagi Jengiz Khan untuk menyerang Dinasti Khawariz, tetapi pertempurannya tidak
membawa hasil.

Pada tahun 1220 M, Jengiz Khan bersama pasukan datang ke Bukhora untuk
melakukan serangan terhadap Khawarizm dan dimenangkan pasukan Jengiz Khan, Ala’
Uddin tidak mampu menahan serangan Jengiz Khan. Ia memerintahkan penduduk
Bukhora meninggalkan kota tanpa membawa suatu apapun kecuali yang melekat di badan,
bagi mereka yang membangkang dan tetap didalam kota aka dibunuh.
Selain itu mereka mengadakan pengrusakan terhadap bangunan-bangunan masjid
dan madrasah, membakar kitab suci dan kitab-kitab lain yang mereka temui dalam
perpustakaan. Ibnu Asia (sejarawan) menyatakan bahwa perusakan tersebut menjadikan
Bukhora rata bagaikan tak pernah ada sebelumnya (Hoeve, 1993:255).

B. Wilayah Kekuasaan Mongol dan Dinasti Ilkhan
Perpaduan antara watak nomad dengan ketangkasannya menunggang kuda, serta
keberaniannya melawan musuh mengantarkan Bangsa Mongol menjadi bangsa penakluk.
Terbukti banyak negara-negara di Dunia yang telah ditaklukkan meliputi kawasan Cina
dan negeri-negeri Islam, khususnya ketika Mongol dipimpin oleh Jengis Khan. Cina bagian
Barat, Tibet, ditaklukkan sekitar tahun 1213 M, dan Beijing tahun 1215 M.
Tiga tahun berikutnya ia dapat menguasai kota Thurkistan yang berbatasan dengan
Khawarizm Syah yang menjadi wilayah Islam. Selanjunya, secara berturut-turut Turkistan
yang juga merupakan wilayah Khawarizm, Bukhara di Samarkhand dan Balkh, serta kotakota
lain yang memiliki peradaban Islam yang tinggi di Asia Tengah tidak luput dari
kehancuran dari serangan bangsa Mongol. Jengis Khan juga mengutus anak-anaknya yaitu
Tulii untuk menaklukkan Khurasan dan Juchi dan Changhatai untuk menaklukkan
wilayah Sri Darya bawah dan Khawarizm (Bosworth, 1993:177).

Sebelum Jengis Khan meninggal Dunia tahun 1227 M, ia membagikan wilayah yang
begitu luas kepada keempat anaknya. Pertama, adalah Juchi anak sulungnya menduduki
wilayah Siberia bagian Barat dan Stepa Qipchaq termasuk juga Khawarizm. Sebelum ia
dapat mempimpin wilayah tersebut ia meninggal Dunia sebelum Jengis Khan. Tetapi
warisan wilayah itu telah diberikan kepada anaknya yaitu Batu dan Orda.
Kedua adalah Chagatay. Wilayahnya meliputi Transoxania sampai ke Turkistan Timur
atau Turkistan Cina. Keturunan Chagatay yang ada di Barat yaitu Transoxania telah
masuk ke dalam kawasan pengaruh Islam, tetapi kemudian dapat dikalahkan Timur Lenk.
Dari Turkistan Timur ia meluaskan daerah ke Serimechye Ili, Tien Syan di Tarim. Mereka
tidak terpengaruh Islam tetapi ikut dalam penyebaran Islam di Turkistan Cina abad XVII.
Ketiga adalah Ogotai. Ia terpilih menjadi Khan Agung mengantikan Jengis Khan.
Setelah mencapai dua generasi, ke-Khan-an Tertinggi disebut keturunan Tohey.
Keempat adalah Tuli. Ia menerima daerah Mongolia. bersama dengan anak-anaknya
Mongke dan Qubilay Khan. Mongke tetap bertahan di Mongolia sebagai Khan Agung dengan
ibukota Qaraqarum dan Qubilay Khan memerintah di Cina yang terkenal dengan Dinasti
Yuan sampai abad XIV. Kemudian digantikan oleh Dinasti Ming yang beragama Budha
yang berpusat di Beijing kemudian mereka bertikai dengan ke-Khan-an Islam di Barat dan
Rusia. Hulagu Khan saudara Qubilay Khan menyerang daerah-daerah Islam sampai
Baghdad.

Setelah Hulagu menaklukkan Baghdad ia mendirikan kerajaan Ilkhaniyah di Persia
atas nama pemerintahan Khan Agung di Mongolia dan Cina dengan gelar Ilkhan dan
membunuh Khalifah terakhir Abbasiyah al-Mu’tasim (13 Februari 1258). Baghdad dan
daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu selanjutnya diperintah oleh Dinasti Ilkhan. Ilkhan
adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu (Nasution, 1985:80). Umat Islam dengan
demikian dipimpin oleh Hulagu Khan, seorang raja yang bergama Syamanism. Hulagu
memerintah sampai tahun 1265 M kemudian diganti oleh anaknya Abaga hingga tahun
1282 M. Ia beragama KRISTEN Nestorian dan bersekutu dengan KRISTEN Eropa, Armenia Cilicia
untuk melawan Mameluk dan saudara-saudaranya dari Dinasti Horde keemasan yang
didirikan Batu anak dari Juchi yang beragama Islam.

Setelah kematiam Qubilay Khan (1294 M), maka wilayah kekuasaannya terlepas.
Mahmud Ghazan yang sudah masuk Islam memerintah Rasyid al-Din al-Thabib dan
Uljaytu agar menuliskan sejarah universalnya. Di bawah pemerintahan Mahmud Ghazna
bersama menterinya Rasyid al-Din al-Thabib banyak mengalami kemajuan. Penguasa
terakhir Ilkhaniyah adalah Abu Said yang berdamai dengan Mameluk tahun 1323 M dan
mengakhiri permusuhan antara kedua kekuasaan itu untuk merebutkan Syiria.
Ilkhaniyah beribukota di Tabris dan Maragha yang merupakan kota perdagangan
antara Timur dan Barat. Selama seratus tahun, Ilkhaniyah di Persia terpecah menjadi
kerajaan kecil seperti Muzafariyyah dan Salaghariyyah di Faris, dan Jalariyyah dengan
ibukota Baghdad.

Dengan kepercayaan dari saudara Moghe Khan, Hulagu dapat mengusai Persia, Irak,
Caucasus dan Asia Kecil. Sebelum menaklukkan Baghdad, pada tahun 1256 M Hulagu
telah menguasai pusat gerakan Syi’ah di Persia Utara. Tahun 1260 M Hulagu juga
menaklukkan Syiria Utara seperti Allepo, Hama dan Hamim. Ketika Hulagu ingin
menaklukkan Mesir ia dapat digagalkan oleh pasukan Mamalik Mesir di ‘Ayn-Jalut di
Palestina (tahun 1260 M).

Wilayah Ilkhaniyah yang berada di Irak, Kurdistan dan Azerbeijan diwarisi oleh
Dinasti Jalayiriyah, tetapi masih memusatkan kekuasaan di Baghdad. Di masa Uways,
pengganti Hasan Agung, ia dapat menaklukkan Azerbeijan, tetapi mendapat perlawanan
dari Dinasti Muzaffariyah dan penguasa Horde keemasan. Tetapi mereka dapat ditaklukkan
oleh Qara Qoyunlu (Domba Hitam) yaitu orang-orang Turkmen yang lari ke Timur akibat
invasi Mongol.
Kedudukan Dinasti-Dinasti ini dapat bertahan sampai datangnya Timur Lenk yang
mempersatukan mereka dengan membentuk Dinasti Timuriyah yang berpusat di
Samarkand (Glasse, 1996:201).
Daerah-daerah kultur Islam yang ada di kawasan Arab yaitu Irak, Syiria dan Persia
Barat telah ditaklukkan Mongol, tetapi Mongol sendiri telah mengikuti atau terserap
dengan budaya Islam.

C. Kerajaan-Kerajaan Kekuasaan Mongol
Kerajaan (negara-negara) yang dikuasai oleh Jengiz Khan pada masa itu sangatlah
banyak dan ia memiliki empat putra maka untuk mengatur negara-negara bawahannya
Jengiz Khan membagi menjadi empat bagian untuk putranya berempat.
. Putra pertama Juchi Khan, dia mendapat bagian Liberia Barat, Stepa Tartar Utara,
Khawarizm. Tetapi 4 bulan berikutnya Juchi Khan meninggal maka digantikan
anaknya Batu Khan. Dialah yang menaklukkan Rusia, Polandia, Bulgaria dan Maghyar
(Eropa Timur) dan dia bermaksud hendak menaklukkan konstantinopel pusat
kerajaan Byzantium pada masa itu. Tetapi sebelum melakukan penjarahan kesana dia
sudah mati.

. Putra kedua Chagatay Khan, mendapat bagian wilayah yang ke timur dari Transxania
sampai ke Turkistan Timur atau Turkistan Cina. Cabang Barat keturunan Chagatay di
Transoxania segera masuk ke dalam lingkungan pengaruh Islam, namun di
tumbangkan oleh Timur. Cabang timurnya di Seminechi dan Ili, Tien Syan. Tarim lebih
tahan terhadap Islam. Namun keturunan Chagatay di timur pada akhirnya membantu
menyebarkan Islam di Turkistan Cina dan mereka berada disana sampai abad ke 17.
. Putra ketiga Ogotai Khan, mendapat kekuasaan di Tartar Tengah dan Tiongkok Utara.
Ogotai inilah yang menyambut gelar ayahnya yang besar “khan”. Ogotai ini pula yang
menurunkan kaisar Kubilai Khan yang terkenal dalam sejarah Tiongkok. Sejak itu
yang berhak memakai gelar “khan” diantara mereka ialah yang jadi kaisar di Tiongkok.
Namun selama dua generasi ke-khan-an tertinggi jatuh ke tangan keturunanketurunan
Tulii Khan.

. Putra keempat Tuli Khan, kepadanya diserahkan tanah Iran, Khurason, Kabul (ibu
kota Afghanistan), juga Heartland kekaisaran Mongol yaitu Mongolia itu sendiri. Yang
mereka kuasai meliputi daerah-daerah taklukan Cina dimana Mongol dikenal sebagai
Dinasti Yuan. Dan memerintah sampai separuh abad ke 14. Daya tarik kultural dan
keagamaan peradaban Cina ternyata kuat bagi khan-khan agung di Peking. Mereka
memeluk agama Budha dan hal ini membuka peluang pertikaian dengan khan-khan
Mongol Asia Barat dan Rusia yang memeluk Islam. Adalah salah satu saudara Kubilai
yaitu Hulagu (anak Toli Khan) yang melancarkan gelombang baru penaklukan ke
Dunia Islam dan mendirikan Ilkhaniyah di Persia dengan demikian ke-khan-an di Asia
Barat, untuk maksud-maksud praktis tak lagi mengakuai kekuasaan khan-khan
Agung di Mongolia dan di Peking.

D. Kemajuan Bangsa Mongol
Pada masa pemerintahan Bahadur Khan, Mongol mengalami kemajuan yang sangat
besar karena pada masa itu, Bahadur berhasil menyatukan 13 kelompok suku bangsa.
Kemudian pada masa pemerintahan Hulagu Khan banyak wilayah yang telah
ditaklukannya. Diantaranya adalah kota Baghdad yang pada waktu dipimpin oleh Khalifah
al-Mu’tashim. Khalifah al-Mu’tashim tidak mampu membendung topan tentara Hulagu
Khan. Selanjutnya Hulagu melanjutkan gerakannya ke Syria dan Mesir. Dari Baghdad
pasukan Mongol menyeberangi sungai Khuprat menuju Syria, kemudian melintasi Sinai.
Mesir pada tahun 1260 M. Mereka berhasil menduduki Hablur dan Gaza.
Selanjutnya pada masa pemerintahan Ghazan, yakni raja yang ketujuh Dinasti
Ilkhan, ia mulai memperhatikan perkembangan peradaban. Ia seorang pelindung ilmu
pengetahuan dan sastra. Oleh karena itu ia mebangun semacam biara untuk para Darwis,
perguruan tinggi untuk mazhab Syafi’i dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium
dan gedung-gedung umum lainnya (Yatim, 1998:117).

E. Sebab-sebab Kemunduran Bangsa Mongol
. Kekalahan pasukan Mongol di bawah panglima Kitbugha atas pasukan Mamalik di
bawah panglima Qutuz.
Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta supaya Sultan
Qutuz yang menjadi raja kerajaan Mamalik untuk menyerah. Permintaan itu ditolak
oleh Qutus dan utusan Kitbugha tersebut dibunuhnya. Tindakan Qutuz itu itu
menimbulkan kemarahan dikalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintas
Jordania meunuju Galilei. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang
dipimpin langsung oleh Qutuz. Pertempuran dahsyat terjadi sehingga pasukan
Mamalik berhasil menghancurkan tentara Mongol pada tanggal 3 September 1260 M.
Hal inilah yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Mongol di Cina.
. Pada saat Mongol diperintah oleh Abu Sa’id 1317-1335 M), terjadi bencana kelaparan
yang sangat menyedihkan dan angin topan dengan hujan es yang mendatangkan
melapetaka. Kerajaan Ilkhan yang didirikan Hulagu Khan akhirnya terpecah belah
sepeninggal Abu Sa’id dan masing-masing pecahan saling memerangi. Akhirnya
mereka semua ditaklukkan oleh Timur Lenk (Hassan, 1989:312).

F. Dinasti Mamalik di Mesir
Kalau ada negeri Islam yang selamat dari kehancuran akibat serangan-serangan
bangsa Mongol baik serangan Hulagu Khan maupun Timur Lenk, maka negeri itu adalah
Mesir, yang ketika itu di bawah kekuasan Mamalik. Karena negeri terhindar dari
kehancuran, maka persambungan dan perkembangan peradaban di masa klasik relatif
terlihat dan beberapa di antara prestasi yang pernah dicapai pada masa klasik bertahan di
Mesir.

Mamalik adalah jamak dari Mamlik yang berarti budak. Mereka pada mulanya adalah
orang-orang yang ditawan oleh penguasa Dinasti Ayyubiyyah sebagai budak. Kemudian
dididik dan dijadikan tentaranya. Oleh penguasa Ayyubiyyah yang terakhir, al-Malik al-
Salih, mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaannya. Pada
masa penguasa ini mereka mendapat hak-hak istimewa baik dalam karier ketentaraan
maupun imbalan-imbalan material.

Di awal tahun 1200 M, Mesir terancam serangan bangsa Mongol yang sudah berhasil
menduduki hampir seluruh Dunia Islam. Kedua tentara bertemu di ‘Ayn Jalut, dan pada
tanggal 13 September 1260 M, tentara Mamalik di bawah kekuasaan Mamalik di Mesir
menjadi tumpuan harapan umat Islam di sekitarnya. Dinasti Mamalik membawa wacana
baru dalam sejarah politik Islam. Pemerintahan Dinasti ini bersifat oligarkhi militer. Sistem
pemerintahan oligarkhi ini banyak mendatangkan kemajuan di Mesir dan kemajuankemajuan
itu dicapai dalam berbagai bidang seperti konsolidasi pemerintahan,
perekonomian dan ilmu pengetahuan.

Dalam bidang ekonomi, Dinasti Mamalik membuka hubungan dagang dengan Prancis
dan Italia melalui perluasan jalur perdagangan yang sudah dirintis oleh Dinasti Fatimiyah
di Mesir sebelumnya. Jatuhnya Baghdad membuat Kairo sebagai jalur perdagangan antara
Asia-Eropa menjadi lebih penting karena Kairo menghubungkan jalur perdagangan Laut
Merah dan Laut Tengah dengan Eropa. Sedangkan hasil pertanian juga meningkat.
Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan jaringan transportasi
dan komunikasi antar kota, baik laut atau darat.

Di bidang ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuwan asal Baghdad
dari serangan tentara Mongol. Ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir di antaranya :
Dalam ilmu Sejarah tercatat nama besar seperti Ibnu Khaldun
2. Dalam ilmu Astronomi dikenallah nama al-Din al-Tusi
3. Dalam ilmu Matematika tercatat nama besar Abu al-Faraj
4. Dalam ilmu Kedokteran tercatat nama besar seperti abu al-Hasan
5. Penemu susunan penebaran darah dalam paru-paru manusia dikenallah nama al-
Nafis
Dinasti Mamalik banyak mengalami kemajuan di bidang arsitektur. Banyak arsitek
didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah dan masjid yang indah. Bangunan lain
yang didirikan pada masa ini di antaranya adalah rumah sakit, museum, perpustakaan
dan lain-lain. Kemajuan itu dicapai berkat kepribadian dan wibawa Sultan yang Tinggi,
ditunjang dengan adanya solidaritas sesama militer yang kuat serta stabilitas negara yang
aman dari gangguan.

Minggu, 12 Agustus 2012

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Menyusuri Jejak Islam di Andalusia

Menyusuri Jejak Islam di Andalusia


“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?, Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.”
Kalimat tersebut diucapkan setelah kapal yang digunakan menyeberangi selat, sehingga satu-satunya pilihan bagi 7000 pasukan Islam saat itu hanyalah menghadapi 100.000 pasukan Visigoth guna menaklukkan negeri Andalusia, atau syahid disana. Pidato terkenal ini dikobarkan oleh seorang panglima perang yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah penyebaran Islam: Thariq bin Ziyad.

Thariq bin Ziyad
Nama lengkapnya adalah Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau. Beliau merupakan putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri. Beliau adalah salah seorang Panglima Perang Islam pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik atau al-Walid I (705-715 M) dari bani Umayah.

Pada bulan Rajab 97 H atau Juli 711 M, beliau mendapat perintah dari Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusair untuk mengadakan penyerangan ke semenanjung Andalusia (Semenanjung Iberia yang sekarang meliputi negara Spanyol dan Portugis). Bersama 7.000 pasukan yang dipimpinnya, Thariq bin Ziyad menyeberangi selat Gibraltar (berasal dari kata “Jabal Thariq” yang berarti “Gunung Thariq”) menuju Andalusia.

Setelah armada tempur lautnya mendarat di pantai karang, beliau berdiri di atas bukit karang dan berpidato.
Beliau memerintahkan anak buahnya untuk membakar kapal-kapal yang membawa seluruh awak pasukannya. Kecuali kapal-kapal kecil yang diminta pulang untuk meminta bantuan kepada khalifah
[citation needed, lihat footnote]. Beliau mengatakan, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa (syahid).”
Karuan saja pidato ini membakar semangat jihad pasukannya. Mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur pasukan kerajaan Visigoth, Spanyol, di bawah pimpinan Raja Roderick. Atas pertolongan Allah swt, 100.000 pasukan Raja Roderick tumbang di tangan pasukan muslim. Raja Roderick pun menemui ajal di medan pertempuran ini.

Dimulainya penyebaran Islam di Eropa Barat
Dalam kitab Tarikh al-Andalus, disebutkan bahwa sebelum meraih keberhasilan ini, Thariq telah mendapatkan firasat bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah saw bersama keempat khulafa’ al-rasyidin berjalan di atas air hingga menjumpainya, lalu Rasulullah saw. memberi tahukan kabar gembira bahwa ia akan berhasil menaklukkan Andalusia. Kemudian Rasulullah saw. menyuruhnya untuk selalu bersama kaum muslimin dan menepati janji.

Setelah meraih kemenangan ini, Thariq menulis surat ke Musa, mempersembahkan kemenangan kaum muslimin ini. Dalam suratnya itu ia menulis:
“Saya telah menjalankan perintah anda. Allah telah memudahkan kami memasuki negeri Andalusia.”
Setahun kemudian, Musa bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Sejak saat itu, satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduduki tentara Thariq dan Musa; Toledo, Elvira, Granada, Cordoba dan Malaga. Lalu dilanjutkan Zaragoza, Aragon, Leon, Asturia, dan Galicia. Dan penyebaran Islam ke Eropa pun dimulai dari Andalusia.

Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu mereka bergerak menuju wilayah Pyrenies, Perancis. Hanya dalam waktu 2 tahun, seluruh daratan Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian Portugis mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb (Barat).

Sungguh itu keberhasilan yang luar biasa. Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad berencana membawa pasukannya terus ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa. Sebab, waktu itu tidak ada kekuatan dari mana pun yang bisa menghadap mereka. Namun, niat itu tidak tereaslisasi karena Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus. Thariq pulang terlebih dahulu sementara Musa bin Nusair menyusun pemerintahan baru di Spanyol.

Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad ditakdirkan Allah swt. tidak kembali ke Eropa. Ia sakit dan menghembuskan nafas. Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai putra asli Afrika Utara muslim yang menaklukkan daratan Eropa.
Wilayah Al-Andalus (abad 7 hingga 10)
Sejarawan Barat beraliran konservatif, W. Montgomery Watt dalam bukunya Sejarah Islam di Spanyol, mencoba meluruskan persepsi keliru para orientalis Barat yang menilai umat Islam sebagai yang suka berperang. Menurutnya,
“Mereka (para orientalis) umumnya mengalami mispersepsi dalam memahami jihad umat Islam. Seolah-olah seorang muslim hanya memberi dua tawaran bagi musuhnya, yaitu antara Islam dan pedang. Padahal, bagi pemeluk agama lain, termasuk ahli kitab, mereka bisa saja tidak masuk Islam meski tetap dilindungi oleh suatu pemerintahan Islam.”
Peperangan dalam Islam adalah untuk menghidupkan manusia bukan untuk memusnahkan. Itu sebabnya, ketika kaum muslimin menang perang dan menguasai wilayah tidak bertujuan menjajahnya. Berbeda dengan ideologi Kapitalisme yang memang tujuan mereka berperang adalah untuk menguasai wilayah dan menjajahnya (baca: menguras seluruh potensi wilayah itu untuk kepentingan bangsanya).
Merah tua: Ekspansi wilayah Islam di zaman Rasulullah, 622-632
Merah muda: Ekspansi wilayah Islam di zaman Khulafaur Rasyidin, 632-661
Oranye: Ekspansi wilayah Islam di zaman Kekhilafahan Bani Umayyah, 661-750
Sejarah Andalusia
Al-Andalus, was the Arabic name given to those parts of the Iberian Peninsula governed by Muslims, or Moors, at various times in the period between 711 and 1492. (Wikipedia)
I. Periode Kekuasaan Bani Umayyah Damaskus (711-755)
Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus.
Wilayah Kekhalifahan Bani Umayyah
Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.

Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol. Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan.
Perbedaan pandangan politik juga menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama, antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Konflik perang saudara diantara berbagai kelompok Muslim di Iberia itu berakibat hilangnya kendali kekhalifahan di wilayah itu, hingga Yusuf Al-Fihri memenangkan perseteruan itu dan menjadi pemimpin independen di wilayah Andalusia.

II. Periode Kerajaan Cordoba (756-1013)
Di tahun 750, kekuasaan khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus digantikan dengan kekuasaan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Abdurrahman Ad-Dakhil, keturunan Bani Umayyah yang selamat, berhasil menurunkan Yusuf Al-Fihri dan memproklamirkan dirinya sebagai Amir kerajaan Andalusia yang berpusat di Cordoba dan melepaskan diri dari Kekhalifahan Abbasiyah pada tahun 756.

Amir Kerajaan Cordoba berturut-turut: Abdurrahman I (756-788), Hisyam I (788-796), Al-Hakam I (796-822), Abdurrahman II (822-852), Muhammad I (852-886), Al-Mundhir (886-888), Abdullah ibn Muhammad (888-912)
Kemudian semenjak kekuasaan Abdurrahman III di tahun 929, sebutan penguasa Amir kemudian digantikan dengan titel Khalifah: Abdurrahman III (912-961), Al-Hakam II (961-976), Hisyam I (976-1008), Muhammad II (1008-1009), Sulaiman II (1009-1010), Hisyam II (1010-1012), Sulaiman II (1012-1016), Abdurrahman IV (1017), Abdurrahman V (1023-1024), Muhammad III (1024-1025), Hisyam III (1026-1031).

Awal dari kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.

III. Periode Kerajaan-Kerajaan Lokal
Kekhalifahan Cordoba runtuh dengan terjadinya perang saudara antara 1009 hingga 1013, meskipun belum sepenuhnya berakhir hingga 1031. Negeri Andalusia kemudian terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negera kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Kerajaan Malaga, Zaragoza, Valencia, Badajoz, Sevilla, dan Toledo.
Perpecahan Negeri2 Andalusia di tahun 1031 (wilayah berwarna putih, merah, kuning, dan biru di bagian utara termasuk kerajaan Kristen)
Para raja-raja kecil itu digelar Mulukuth Thawaif (Raja Lokal) kemudian berseteru dan berperang satu sama lain tanpa sebab yang jelas. Hanyalah karena ingin saling menguasai. Kisah-kisah pengkhianatan, kisah-kisah perebutan puteri cantik dan perebutan harta mewarnai semua perseteruan itu. Mereka tak sadar umat Kristen telah mempersiapkan kekuatan untuk merebut kembali Spanyol. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain.

IV. Periode Kekuasaan Dinasti-dinasti dari Maroko
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas “undangan” penguasa-penguasa Islam di sana yang tengah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia. Karena perpecahan di kalangan raja-raja muslim, Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu.

Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muwahhidun. Pada masa dinasti Murabithun, Saragossa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M. Di Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun.

Pada tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahhidun yang berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahhidun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w. 1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd al-Mun’im. Antara tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaannya. Untuk jangka beberapa dekade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan.

Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Keadaan Spanyol kembali runyam, berada di bawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Yang pertama hancur adalah Toledo yang jatuh pada tahun 1085 di mana Raja Al Qadir Adzdzunnuniyah menyerah kepada Raja Leon Alfonso VII. Kemudian Mustansir al-Mudiayah menyerah kepada Ramire II dari Aragon. Kerajaan Cordova yang terbesar di Andalusia jatuh pada tahun 1236 dan Kerajaan kedua terbesar Sevilla luluh-lantak dan takluk pada tahun 1248.
Masjid Cordova
Keruntuhan Cordova tidak saja diratapi oleh Umat Islam, tetapi juga seorang penulis Kriten Stanley Lane Poole dalam bukunya “The Mohammadan Dynasties” mengakui betapa mundurnya peradaban Andalusia setelah runtuhnya kerajaan Islam Cordova. Pengakuan dunia Kristen terhadap peradaban Islam Cordova dapat dibuktikan dengan permintaan Inggris agar pemuda pemuda Inggris dapat menuntut ilmu di Universitas Cordova. Surat Raja Inggris itu diterima oleh Sultan Hisyam III yang berbunyi antara lain,
“Kami telah mendengar kemajuan Ilmu dan industri di Negara Paduka Yang Mulia. Karenanya kami bermaksud mengirim putera-puteri terbaik kami untuk menimba ilmu di Negara Paduka Yang Mulia agar ilmu pengetahuan tersebar ke negeri kami yang dikelilingi kebodohan dari empat penjuru. (Wajah Dunia Islam oleh Dr Muhammad Sayid al-Wakil).
V. Periode Keraajaan Granada
Sisa-sisa umat Islam di Andalusia itu masih dapat bertahan dan bangun kembali di Granada, di bawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman an-Nasir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Universitas Granada dan Istana Al Hambra yang termasyhur itu pun dibangun walau di tengah ancaman tentara musuh.
Sisa wilayah Islam tahun 1300 M
Istana Al-Hambra
Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta. Tentu saja, Ferdenand dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Muhammad Abdullah IX tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Akhirnya keemasan Granda Kerajaan Islam terakhir di Andalusia setelah ratusan tahun memencarkan sinarnya ke seluruh penjuru Eropa hilang dan sirna. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M.

Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggal Spanyol. Umat Islam pun terusir dengan pedihnya dari bumi Andalusia. Hanya yang mau meninggalkan Islam (murtad) yang boleh tinggal. Yang tetap beriman kepada Allah bersama Raja Abu Muhammad di persilahkan naik ke kapal dan berlayar menuju Afrika Utara menyeberangi Selat Gibraltar. Kalau dulu Tariq menyeberanginya dengan kepala tegak penuh semangat dan optimisme, namun Abu Muhammad berlayar dengan sedih dan menundukkan kepala dengan penuh keaiban. Tanggal 2 Januari 1492 itu tercatat sebagai pemurtadan besar-besaran yang pernah terjadi dalam sejarah. Baik Cordova maupun Granada hancur lebur bersama kitab-kitabnya berikut peradabannya. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.
Mengenai jatuhnya Granada yang merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan ini, ilmuwan sekelas Emmanuel Deutch berkomentar,
“Semua ini memberi kesempatan bagi kami (bangsa Barat) untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, sewajarnyalah jika kami selalu mencucurkan airmata manakala kami teringat saat-saat terakhir jatuhnya Granada.” (M. Hashem, Kekaguman Dunia Terhadap Islam, hlm. 100)
Perkembangan Iptek (masih ngopi utuh2 dari artikelnya islamuda.com :D )
Membicarakan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Spanyol, tak bisa lepas dari kerja besar pembangunan peradaban yang dilakukan para pembawa risalah Islam ke kawasan Eropa itu. Tak bisa juga dipisahkan dari kajian etika serta syari’at Islam yang didakwahkan para da’i. Itulah yang mendorong semangat para ilmuwan Muslim Spanyol: Pengetahuan itu satu karena dunia juga satu, dunia satu karena Allah juga satu. Prinsip “tauhid” semacam ini yang menjadi koridor berpikir para ilmuwan muslim dalam mengembangkan sains dan teknologi.

Tak mengherankan jika temuan-temuan para ilmuwan muslim pada zaman ini sangat revolusioner. Jauh sebelum Wilbur Wright dan Oliver Wright menemukan pesawat terbang pada abad 20, usaha menemukan alat transportasi penerbangan sudah dilakukan oleh Abu Abbas Al-Fernass. Bahkan ia sudah mencoba terbang, meski kendaraan yang ditemukannya tak sempurna. Sayangnya, sejarah peradaban dunia Islam yang berbasis di Andalusi, Spanyol itu, tak terekam oleh Barat. Sementara catatan-catatan sejarah Islam, ditutup rapat untuk tak dijadikan referensi.
-http://en.wikipedia.org/wiki/Timelinorang pertama yang memperkenalkan teknik pembedahan manusia. Az-Zahrawi yang lahir dekat Cordova pada 936 Masehi, dikenal sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahnya itu dijadikan referensi dasar bedah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah universitas, termasuk yang ada di Barat, menjadikannya sebagai acuan.

Demikian halnya kontribusi ilmuwan Islam di bidang astronomi. Adalah Az-Zarqalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolabe. Yaitu suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan demikian, transportasi pelayaran berkembang pesat selepas penemuan astrolabe. Sementara pakar geografi, Al-Idrisi, yang lahir di Ceuta pada 1099 Masehi, setelah menuntut ilmu di Cordova juga menemukan dan memperkenalkan teknik pemetaan dengan metode proyeksi. Suatu metode yang sama dengan yang dikembangkan Mercator, empat abad kemudian.

Eropa Berhutang Budi Temuan sains dan teknologi, serta kajian filsafat Muslim Spanyol, mengalir ke seluruh kawasan ibarat mengairi kekeringan kehidupan intelektual Eropa. Para pelajar dari Eropa Barat memenuhi perpustakaan-perpustakaan serta kampus-kampus perguruan tinggi yang dibangun oleh ilmuwan muslim di sana. Pola pendidikan yang dikembangkan para ilmuwan muslim di sana, sungguh memikat para pelajar dari Eropa. Dalam kitabnya yang berjudul Muqaddimah, ulama Muslim terkemuka Ibnu Khaldun menilai metode pendidikan yang dikembangkan saat itu sebagai “Mengarahkan seseorang untuk mengerti sesuatu melalui apa yang dikerjakannya”. Secara sederhana Ibnu Khaldun menyebutnya sebagai “Metode belajar dengan hati” atau “Learning by doing” dalam bahasa kita sekarang.

Kondisi inilah yang mencerahkan paradigma berpikir orang-orang Eropa. Menurut Montgomery, cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi “dinamo”nya, Barat bukanlah apa-apa. Inilah yang sesungguhnya menjadi momentum Eropa memasuki masa Renaissance. Pada abad sembilan, demikian Montgomery, Universitas Cordoba menjadi gerbang Eropa memasuki zaman pencerahan. Sayangnya orang-orang Eropa merasa pencerahan mereka berawal pada abad enam belas dari Florence di Italy.

Yaitu pada saat pemimpin Eropa bersepakat ‘meninggalkan’ agama dalam segala aspek kehidupan dan mengembangkan apa yang disebut sekularisme. Akibatnya, keagungan peraaban Islam yang dibangun di Spanyol berakhir dengan tragis. Yaitu pada saat penguasa di sana menghancurkan semua karya pemikiran para ilmuwan muslim. Tidak hanya karya-karyanya yang dimusnahkan, para ilmuwannya pun disingkirkan. Ibnu Massarah diasingkan, Ibnu Hazm diusir dari tempat tinggalnya di Majorca, kitab-kitab karya Imam Ghazali dibakar, ribuan buku dan naskah koleksi perpustakaan umum al Ahkam II dihanyutkan ke sungai. Ibnu Tufail, Ibnu Rushdy disingkirkan. Nasib yang sama, juga dialami Ibnu Arabi.

Akhirnya, kebijakan bumi hangus tersebut telah menyebabkan kesulitan merekonstruksi perjalanan sejarah Islam di Sevila, Cordoba, dan Andalusia sebagai bukti keagungan peradaban Islam di Spanyol tidak bias dipungkiri, meski kemudian sirna dihancurkan dalam Perang Salib.

Referensi tulisan ini diambil dari beberapa sumber di internet:
-http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/10/1/pustaka-159.html

Tulisan ini masih belum selesai disusun sih tapi sudah setengah jadi ya saya terbitkan dulu saja, jika kira2 ada kesalahan dalam tulisan ini silakan dikoreksi. Kebenaran datangnya dari Allah, sedangkan kesalahan datangnya dari syaitan dan kehilafan saya.

Update: Sebuah tulisan dari buku “Sorotan Total Ulama Salaf: Koreksi Terhadap Hadits-hadits, Filosof, Sastrawan, Kisah, dan Kitab-kitab Populer” yang ditulis oleh Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan yang mengomentari kisah heroik “Thariq bin Ziyad Membakar Perahu-perahu”, berikut saya lampirkan sebagai pembanding:
Sebagian ahli sejarah berpendapat batalnya riwayat yang menyebutkan, bahwa Thariq membakar perahu dan mereka beralasan dengan dalil-dalil berikut ini:
  • Sesungguhnya berita tentang pembakaran, tidak seorangpun yang menyebutkan baik dari tentaranya Thariq bin Ziyad atau orang yang hidup semasa dengannya, akan tetapi pernyataan ini dikatakan setelah meninggalnya Thariq bin Ziyad berabad-abad lamanya.
  • Thariq tidak mengatakan “sesungguhnya aku telah membakar perahu-perahu atau memerintahkan hal itu, akan tetapi sebagian mutaakhirin (generasi belakangan ini) memahami hal itu dari khutbahnya yang disampaikan yang berbunyi
    “wahai sekalian manusia dimana tempat kamu lari? lautan dibelakang kalian dan musuh di depan kalian”
    lalu mereka memahami dari perkataan ini, bahwa laut di belakang mereka dan tidak ada sarana untuk membawa mereka kepada musuh yang menyerang dari arah barat, ini adalah pemahaman yang keliru pada hakekatnya perahu-perahu itu bukan milik Thariq, bagaimana mungkin dia bertindak sekehendak hatinya.
  • Tidak seorang pun dari pemimpinnya menghukum Thariq (atas tindakannya), baik itu pemimpin umum Musa bin Nushair atau Khalifah al-Walid bin Abdul Malik
  • Apakah tidak mungkin bagi Thariq kalau dia menyuruh (membiarkan) perahu-perahu lalu mendatangi musuh dari arah barat lalu dia mampu meraih kemenangan sedang itu lebih utama daripada dia harus membakarnya dan merugikan muslimin
  • Apakah Thariq tidak mengharapkan bantuan? dan inilah yang terjadi, lalu dengan alat apa bantuan ini dapat diangkut? pada dasarnya bantuan ini dapat diangkut dengan perahu-perahu tersebut.
  • Dari mana Musa bin Nushair bisa membawa perahu-perahu yang mengangkutnya ke Andalus bersama sisa pasukannya ketika dia khawatir akan nasib muslimin yang masuk terlalu jauh ke dalam Andalus? sungguh proses pemindahan itu bersandarkan pada perahu itu sendiri.
  • Tidak mungkin bagi pemimpin yang berpandangan jauh seperti Thariq tidak memikirkan masa yang akan datang lalu membiarkan pasukannya yang kecil di negara Andalus yang sangat luas. Andalus di belakangnya Eropa, negara yang senantiasa ingin menikan dan dengki serta menunggu kesempatan untuk menerkamnya.
  • Dengan membakar perahu-perahu itu, bukan merupakan cara yang tepat untuk membangkitkan semangat pada diri kaum muslimin. Sungguh mereka telah mengetahui, bahwa tujuan jihad adalah salah satu dari dua kebaikan (yaitu mendapat kemenangan atau mati syahid).
  • Pembakaran perahu itu tidak banyak berguna tatkala hal ini menimbulkan efek samping negatif dalam jiwa muslimin.
Sesudah membawakan dalil-dalil ini, peneliti sampai pada sebuah kesimpulan yaitu “kalau begitu, Thariq tidak membakar perahu-perahu dan perahu-perahu tersebut masih tetap ada pada orang-orang muslim (pasukannya), dan bantuan ke Andalus dapat disalurkan melalui perahu-perahu tersebut dan pemimpin mereka bersama sisa pasukan dapat pergi ke Andalus dengan perahu tersebut juga.

Masalah pembakaran perahu-perahu adalah perkara yang dibuat-buat oleh sebagian mereka untuk memunculkan ruh pengorbanan dan keberanian dari Thariq. Mereka yang mensponsori berita ini adalah mereka yang mempunyai target-target kedepan dalam memotivasi umat Islam agar menyelisihi islam dan melakukan aksi tanpa perhitungan, dan melarang kaum muslimin dalam memakai peralatan-peralatan canggih dalam berperang dan kalaupun menggunakannya tanpa batas dan memusnahkannya. [Mafhumat Asasiyah fi at-Tarikh al-Islami ditulis oleh Mahmud Syakir, majalah al-Faishal no.163, at-Tarikh al-Andalusi oleh Dr. al-Haji, hal.62, lihat buku "Qishashu La Tatsbut" oleh Masyur Hasan, hal.95-109]

Jumat, 10 Agustus 2012

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business


Keluarga Abbasiyah
Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdi Manaf meninggalkan beberapa orang putera. Diantaranya Abdullah (ayahanda Nabi Muhammad), Abbas dan Abu Talib. Akan tetapi yang mempunyak keturunan banyak hanyalah Abbas dan Abu Thalib. Mereka berdua menurunkan keluarga besar yang tersebar seantero Daulat Islam, dari ujung Barat Afrika-Utara sampai ke negeri-negeri Asia-Tengah.
Abbas dilahirkan tiga tahun sebelum tanuh gajah. Berarti lebih tua tiga tahun dari Rasulullah. Ibunya bernama Nutailah binti Janab. Abbas seorang pemuka Bani Hasyim dan seorang cendikia suku Quraisy. Ia sahabat karib Abu Sufyan bin Harb. Dikala agama Islam mulai disiarkan Nabi, dia menjadi penolong Nabi yang mukhlis. Ia dimuliakan dan dicintai Rasulullah s.a.w. dan Khalifah-khalifah setelahnya. Ia wafat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan.
Abdullah bin Abbas adalah putera kedua dari Abbas. Ia lahir dua tahun sebelum Hijrah. Ketika Nabi wafat umurnya baru tiga belas tahun. Ia kekasih dan kesayangan Nabi. Di zaman Umar bin Khattab ia menjadi anggota dewan penasehat Khalifah yang istimewa. Sekalipun ketika itu usianya masih amat muda, tapi kerap kali Umar menanyakan hukum-hukum dan berbagai masalah kepadanya. Dari keturunan Abdullah inilah lahir keluarga Abbasiyah, dan saudara-saudaranya yang lain tidak mempunyai keturunan.
Ali bin Abdullah adalah salah satu putera Abdullah. Ia lahir dimalam terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Talib. Untuk memperingati kematian itu maka Abdullah memberi nama puteranya dengan Khalifah itu.
Muhammad bin Ali adalah sulung dari 20 putera laki-laki Muhammad dan 11 putera wanitanya. Dia inilah ayahanda Ibrahim al-Imam, Abul Abbas Assafah dan Abu Ja’far al-Manshur. Dan tiga putera Muhammad inilah yang menjadi tulang-punggung Daulat Abbasiyah.
Zaman Keemasan Daulat Abbasiyah
Lima Abad lamanya keluarga Abbasiyah menduduki singgasana Khalifah Islam, mulai dari tahun 132 H. (749 M.) yaitu tahun dikukuhkannya Abul Abbas Assafah, sampai jatuhnya Baghdad oleh serbuan orang Mongol-Tartar dibawah kepemimpinan Hulako pada tahun 656 M. (1258 M.).
Adapun masa Daulat Abbasiyah dari permulaannya sampai ke zaman Khalifah al-Watsiq Billah tahun 232 H. (879 M.) adalah masa kejayaan Daulat Bani Abbas, maka ketinggian dan kebesaran, maka itu adalah zaman keemasan Islam yang sangat gemilang.



1- ABUL ABBAS ASSAFAH
(132 – 136 H. = 749 – 754 M.)
Pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal 132 H. (30 Oktober 749 M.), Abul Abbas Assafah dibai’at menjadi Khalifah yang pertama dari keluarga Abbasiyah di kota Kufah. Ketika itu Marwan bin Muhammad masih hidup. Baru pada tanggal 5 Agustus 750. (27 Dzulhijjah 132 H.( Khalifah Umayyah yang terakhir itu menemui ajalnya dalam pertempuran dengan tentara Abbasiyah di Alfayaum (Mesir). Tidak lama kemudian Abul Abbas Assafah pindah ke Hirah, kemudian ke Anbar dan kota ini kemudian dijadikan sebagai ibukota Khilafahnya, dengan nama Hasyimiyyatul Anbar, yang sekaligus menjadi peringatan bagi Kakek Bani Abbas, yaitu Hasyim.
Semula keluarga Abbasiyah ini akan mengambil Damaskus menjadi ibukota Khilafahnya, namun karena disana masih banyak pengikut keluarga Bani Umayyah, apalagi jauh dari Persia, pusat kekuasaan mereka, dan dengan dari batas Imperium Romawi Timur yang mungkin membahayakan daulatnya yang masih sangat muda itu, maka ia menjadikan kota baru itu sebagai ibukotanya.
Siasat Abul Abbas Assafah
Selama masa pemerintahannya, Assafah berusaha mengkokohkan sendi-sendi khilafahnya. Siasatnya itu dapat diketahui dari pidatonya yang pertama di Kufah, saat ia dibai’at. Dalam pidatonya itu ia menyatakan keutamaan keluarga Muhammad dan kejelekan Bani Umayyah, karena perbuatan mereka merampas pangkat Khalifah. Dia mencela tentara Syam, memuji penduduk Kufah karena kejujuran mereka membantu keluarga Bani Abbas menegakkan Daulatnya. Pidato itu diakhiri dengan ucapan: “Sayalah Assafah yang tidak gentar menumpahkan darah apabila perlu” Maksudnya berkata demikian ialah akan menegaskan kepada musuh-mushnya, khususnya keluarga Bani Umayyah, bahwa barangsiapa yang berani menentang dia dan menghalangi Daulatnya, akan berhadapan dengan ujung pedang Assafah”. Maka dari itu lekat sekali gelar yang disandangnya yaitu ‘Assafah’ sang penumpah darah.
Assafah Penumpah Darah
Abul Abbas Assafah mempergunakan sebagian masa pemerintahannya untuk memerangi panglima-panglima Arab yang setia kepada Bani Umayyah, bahkan seluruh keluarga Bani Umayyah dimusnahkan, kemanapun anggota keluarga Bani Umayyah besar maupun kecil dikejar dan dibunuh. Mereka tidak puas dengan menghina keturunan keluarga itu yang masih hidup dan merampas harta bendanya.
Abdullah bin Ali paman Assafah dan Gubernurnya di Syam mengadakan penyembelihan umum menghabiskan para Amir Bani Umayyah, sebagian besar mereka itu dipanggil untuk menghadiri suatu jamuan dan ditempat itu mereka dibunuh.
Ia juga menumpahkan darah orang-orang yang menjadi penolong berdirinya Daulat Abbasiyah. Ia membunuh Abu Salmah Al-Khilaly seorang yang menjadi tangan kanannya dalam mendirikan daulatnya. Abu Salmah ini adalah penolong yang sangat besar jasanya, sehingga ia diberi gelar oleh keluarga Bani Abbas dengan ‘Wazir keluarga Muhammad’. Abu Salmah dibunuh karena dicurigai akan memindahkan khilafat kepada keluarga Alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Talib). Ia juga bermaksud membunuh Abu Muslim Al-Khurrasani, karena ia takut kalau-lakau panglima ini akan membahayakan daulatnya, karena pengaruhnya semakin lama semakin besar. Akan tetapi keinginan itu tidak kesampaian karena ia dijemput oleh ajalnya. Kemudian pembunuhan atas Abu Muslim Alkhurrasani dilakukan oleh Khalifah berikutnya.
Abul Abbas Assafah wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah tahun 136 M. (9 Juni 754 M.) sesudah ia memerintah selam 4 tahun 9 bulan.













2- ABU JA’FAR AL-MANSHUR
(136 – 158 H. = 754 – 775 M.)
Awal Kejayaan Daulat Bani Abbas
Abu Ja’far Al-Manshur menjadi Khalifah sejak saudaranya Assafah wafat. Ia juga dipandang sebagai pendidi yang hakiki bagi Daulat al-Abbasiyah, karena dialah yang membuat dan merealisasikan tata negara Daulatnya.
Pada masanya kejayaan dan pekembangan ilmu pengetahuan berkembang pesar, maka dari itu pada masa berikutnya Daulat Bani Abbas mencapai masa kejayaannya. Pada masa itu juga berkembang pengaruh Persia, sehingga Khalifah-khalifah Bani Abbas mentransfer beberapa kebudayaan Persia, seperti adat-istiadat istana dan peraturan negara yang digunakan para Kisra Persia. Dalam Istanapun orang Perialah yang berpengaruh, Orang Arab makin lama semakin tersingkir.
Pada awal pemerintahannya Khalifah Al-Manshur menghadapi berbagai macam kesulitan yang dapat diatasinya dengan ketabahan dan keteguhan hatinya. Sifat-sifat inilah yang melangsungkan kemenangan Khalifah dalam segala usahanya. Diantara kesulitan yang dihadapi Al-Manshur adalah pendurhakaan pamannya sendiri yaitu Abdullah bin Ali, keingkaran Abu Muslim al-Khurrasani dan pemberontakan kelompok Alawiyyin.
Pendurhakaan Abdullah bin Ali
Abdullah menyatakan bahwa Assafah telah menjanjikan bahwa sepeniggalnya kelak ialah yang akan menggantikannya, jika ia dapat memusnahkan seluruh kekuatan Marwan bin Muhammad dan para pengikutnya. Pengakuan ini diakui oleh sebagian orang, lalu mereka membaiatnya. Oleh karena itu Abdullah tidak mau membai’at al-Manshur. Untuk menaklukkan pemberontakan ini Al-Manshur memerintahkan panglima Abu Muslim Al-Khurrasani ke Syam.
Diantara tentara Abdullah bin Ali di Syam terdapat 17.000 orang tentara Abu Muslim Al-Khurrasani. Oleh karena itu ia takut kalau mereka nanti menggabungkan diri dengan barisan Abu Muslim, maka ia membinasakan mereka dengan tipu muslihatnya. Dengan demikian Abdullah telah melemahkan kekuatannya sendiri dengan tangannya sendiri. Dengan demikian tidak terlalu sulit bagi Abu Muslim untuk dapat menindas perlawanannya. Dia tertangkap lalu dipenjarakannya sampai ia meninggal dalam tahanan.




Keingkaran Abu Muslim Al-Khurrasani
Khalifah al-Mansyur sangat benci danmarah kepada Abu Muslim ketika dia telah membanggakan dirinya, tidak mentaati perintah Khalifah lagi dan terlalu banyak menumpahkan darah dengan tidak ada sebag yang nyata. Khususnya lagi ia telah menyatakan keingkarannya kepada Khalifah Al-Manshur. Atau boleh juga dikatakan kebesaran pribadi Abu Muslim, dirasa membahayakan kedudukan Al-Manshur. Al-Manshur selalu mencari peluang yang baik untuk membinasakannya. Akhirnya pada saatnya ia memanggil Abu Muslim dan dengan tipu muslihanya ia dapat membunuhnya. Setelah Abu Muslim wafat, Al-Manshur merasa tidak ada lagi kekuagan yang mengancam kedaulatannya.
Pemberontakan Alawiyyin
Keluarga Abbasiyah beruntung dapat merebut kursi Khilafah. Mereka menegakkan daulatnya atas pusara reruntuhan Daulat Bani Umayyah. Hal ini tidak menyenangkan hati kaum Alawiyyin, karena mereka yakin bahwa mereka lebih berhak menduduki singgasana Khilafah daripada yang lainnya. Oleh sebab itu mereka menyatakan permusuhan atas keluarga Bani Abbas. Apalagi ketika hendak menghancurkan kekuatan Bani Umayyah mereka lebih mengutamakan nama Bani Hasyim daripada Bani Abbas, tetapi setelah berhasil mereka ditinggalkan.
Pada tahun 145 H. muncullah di Hijaz Muhammad bin Abdillah al-Alawy. Disana ia dikukuhkan menjadi Khalifah. Dia mengirimkan saudaranya Ibrahim ke Basrah untuk menyiarkan Dakwanya supaya penduduk kota itu turut membai’at dia.
Muammad bin Abdullah dituntukkan dan dibunuh oleh Al-Manshur pada tahun 145 H. Sepeninggal Muhamad bin Abdullah, Ibrahim bangun dan mengangkat dirinya menjadi Khalifah di Irak dan Persia. Akan tetapi nasibnya sama dengan saaudaranya Muhammad. Ia mati dibunuh pada tahun 146 H.
Siasat Luar Negeri Al-Manshur
1. Terhadap Imperium Byzantium
Orang-orang Byzantium senantiasa mengintai kelemahan-kelemahan Bani Umayyah. Untuk melanarkan serangan mereka ke negeri-negeri Islam yang berbatasan dengan negeri mereka. Byzantium mengerahkan tentaranya menyerang Syam di zaman Khalifah Al-Manshur pada tahun 138 H. Penyerangan ini dapat ditangkis oleh laskar Abbasiyah. Peperangan itu diakhiri dengan perjanjian genjatan senjata selama 7 tahun.
Setelah Khalifah Al-Manshur memadamkan pemberontakan kaum Alawiyyin, penyerangan ke Byzantium dimulai. Maka terpaksa Kaisar Byzantium minta berdamai dan berjanji akan membayar upeti tahunan kepada Khalifah Abbasiyah.


2. Terhadap negeri Andalus
Negeri Andalus telah melepaskan diri dari Daulat Abbasiyah, sesudah berdiri disana Daulat Bani Umayyah tahun 138 H. (757 M.) dengan usaha Amir Abdurrahman Ad-Dakhil bin Mu’awiyah bin Hisyam. Amir ini melarikan diri katika dilakukan sapu bersih atas keluarga Bani Umayyah. Al-Manshur tak dapat menaklukkan negeri itu karena jauhnya jarak dari Khilafah Bani Abbas. Apalagi ketika itu ia sedang menindas huru-hara dan pemberontakan dalam negeri. Maka Al-Manshur bersahabat dengan Pepyn raja Frank serta bertukaran duta dan bingkisan. Dan raja itu dihasutnya supaya memerangi Abdurrahman.
3. Terhadap Afrika
Bangsa Barbar di Afrika Utara tidak senang dipimpin oleh Orang Arab yang berlaku aniaya atas mereka. Mereka diperlakukan oleh wali-walinya bukan sebagai sasama saudara, melainkan seperti penjajah dengan terjajah, walaupun mereka telah masuk Islam. Ketika Daulat Bani Umayyah melemah mereka berontak dan mendirikan beberapa wilayah merdeka. Akan tetapi tidak lama para Amir Barbar berselisih antar mereka. Peluang ini digunakan oleh Al-Manshur untuk menaklukkan daerah itu kembali, pada tahun 144 H. Kota Kairawan silih berganti dikuasai oleh laskar Arab kemudian Barbar dan sebaliknya, mulai 155 H. kota itu sempurna dikuasai oleh laskar Abbasiyah.
Pembangunan yang dilakukan oleh Al-Manshur
Mendirikan kota Baghdad dan kota-kota lain
Khalifah Al-Manshur mendirikan kota Hasyimiyatul Kufah untuk ibukota negaranya. Kemudian dibangun pula kota Baghdad ditempat yang sangat strategis, tidak terlalu jauh dari laut, dan terletak diantara sungai Tigris dan Euptrat. Juga dibangun kota Ar-Rushafah dipinggir Timur sungai Tigris. Kota Baghdad dijadikannya sebagai markas besar tentaranya.
Zaman mengarang dan terjemah
Al-Manshur menggiatkan para pujangga untuk mengarang dan menterjemahkan buku-buku dari bahasa Persia, Yunani dan Hidu ke dalam bahasa Arab. Ia sendiri gempar akan ilmu kedokteran, falak dan riyadhiyat. Maka kota Baghdad menjadi hidup dan menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Di zamannya lahirlah beberapa orang pujangga, pengarang, penterjemah, diantara Ibnu Muqaffa’ penerjemah buku Kalilah dan Daminah.



Hemat cermat dalam segala pekerjaan
Khalifah Al-Manshur sangat hemat dan cermat dalam menjaga peraturan. Dia terkenal rajin dan berhati hati dalam pengaturan istananya. Senantiasa ingat dan waspada dalam segala pekerjaannya. Hal ini terbukti dengan perkataannya: “Pintu istanaku hendaklah senantiasa dilalui oleh empat orang, mereka itu adalah tiang khilafah. Manakala mereka kurang seorang saja, maka khilafah tidak akan tegak, laksana kursi yang tidak tegak kecuali dengan empat kaki. Mereka itu ialah: 1- Hakim yang adil, 2. Kepala intelejen yang mengawasi sepak terjang para pejabat, 3. Kepala perpajakan yang adil lagi tidak aniaya, 4. Jawatan Pos yang senantiasa membawa berita yang benar kepadaku tentang perbuatan-perbuatan pembesar-pembesar Khilafah.
Al-Manshur mempergunakan kepada-kepala jawatan Pos dengan sebaik-baiknya. Mereka yang menjadi mata kepalanya mengawasi segala perihal khilafah. Dengan demikian Al-Manshur dapat mengetahui segala perbuatan para Gubernurnya sebagaimana hukum yang diputuskan oleh para Hakimnya, berapa uang yang masuk ke dalam Baitul Mal dan lain-sebagainya.
Kepala-kepala jawatan pos selalu melaporkan harga pasaran dari segala macam barang, makanan dan barang yang lain. Oleh karena itu hubungan dengan para Gubernur sangat dekat. Kalau harga barang-barang naik jauh melebihi harga biasa, diperintahkannya agar harga itu diturunkan seperti sediakala. Bia dilihat seorang pegawainya berlaku lalai atau kurang hati-hati, dicelanya dan dipecat dari jabatannya.
Khalifah Al-Manshur terkenal hemat mengeluarkan perbelanjaan dan pemberian, sehingga dikala ia wafat perbendaharaan negara melimpah dan dapat dibelanjakan untuk sepuluh tahun kemudian lamanya. Walaupun demikian ia memiliki kekurangan, diantaranya adalah penumpahan darah dan kecurangan atas beberapa orang yang dijamin keamanan jiwanya.
Al-Manshur wafat pada tanggal 7 Dzulhijjah 158 H. (8 Oktober 775 M.). Ia digantikan oleh puteranya Al-Mahdi.









3- AL-MAHDI
(158 – 169 H. = 775 – 785 M.)
Masa Pembaharuan dan Peralihan
Khalifah Al-Mahdi memerintah selama 10 tahun. Masa pemerintahannya dipandang sebagai masa peralihan antara zaman kekerasan yang menjadi ciri Khalifah-khalifah Bani Abbas yang terdahulu kepada zaman sederhana dan lemah lembut yang menjadi perhiasan masanya dan Khalifah-khalifah kemudian.
Al-Mahdi memulai masa pemerintahannya dengan bermacam-macam perbaikan dan pembangunan, berkat harta peninggalan yang amat banyak semenjak zaman Abu Ja’far Al-Manshur.
Diantara usahanya ialah memdirikan bangunan-bangunan tempat air disepanjang jalan ke Mekkah untuk minuman kafilah yang berlalu, dan memperluas Masjidil Haram. Dia membeikan perbelanjaan tetap kepada orang lemah yang tak mampu lagi bekerja agar tidak mengemis.
Diantara Makkah, Madinah dan Yaman dibangun jawatan pos berunta dan berkuda, peraturannya disempurnakan. Al-Mahdi juga dikenal pemurah dan dermawan, sehingga sifatnya yang utama ini hampir mendekati sifat boros.
Sikapnya terhadap orang Zindik (Atheis)
Al-Mahdi tidak selalu belemah lembut, ia juga kerap kali berlaku keras dan kasar atas orang-orang yang durhaka, khususnya kepada orang Zindik (Atheis), yang lahir di masa pemerintahannya. Kaum ini menghalalkan yang haram dan merusak tatanan kesopanan dan budi pekerti. Al-Mahdi berusaha menindas golongan ini, sehingga untuk itu dia mendirikan suatu jawatan istimewa dikepalai oleh seorang yang pangkatnya bernama ‘Shahibuz Zanadiqah’. Tugasnya ialah membasmi dan mengikis kaum dan ajarannya. Pengikisan terhadan kaum ini dilanjutkan oleh Khalifah berikutnya Musa Al-Hadi.
Siasat Luar Negeri
Di zaman Al-Mahdi mulailah kerajaan-kerajaan lain menyegani dan menakuti daulat Islam karena kebesaran, keagungan dan kekuasaannya.
Perselisihan yang tidak habis-habisnya antara Bani Abbas dan keluarga Bani Umayyah di Andalus, membentangkan jalan bagi Maharaja Karel De Grote untuk bersahabat dengan Khalifah-khalifah Abbasiyah. Hal ini menguntungkan Khalifah Abbasiyah dalam usahanya menghadapi Daulat Byzantium.
Peperangan antara Daulat Abbasiyah dan Imperium Romawi Timur tiada henti-hentinya di zaman khalifah Al-Mahdi. Laskar Islam menjarah ke dalam daerah Romawi sehingga mereka sampai ke anggora (Angkara) di Asia Kecil. Untuk membalas peristiwa ini, Kaisar Byzantium mengerahkan laskarnya menyerang negeri-negeri Islam di perbatasan Siria, sampai laskar Islam bisa dipukul mundur. Kemudian tiba giliran Al-Mahdi membalas serangan itu.
Pada tahun 163 H. dibentuklah sebuah laskar besar dibawah pimpinan puteranya sendiri Harun Arrasyid, dibantu oleh panglima Khalid Al-Barmaky. Tentara ini dapat menumbangkan segala yang menghalanginya, sehingga ia dapat menaklukkan benteng Smala, sebuah benteng yang terkuat milik orang Byzantium. Pada tahun 165 H. Al-Mahdi mengadakan penyerangan sekali lagi, dengan angkatan perang yang juga dipimpin Harun Arrasyid. Kali ini Harun maju sampai ke tepi selat Bosporus, sehingga ia dapat memaksa Ratu Irene (pemangku jabatan Kaisar mewakili puteranya Constantyn VI yang masih kecil th.780 – 797 M.) membayar upeti tiap tahun kepada Daulat Islam, banyaknya 90.000 dinar. Peperangan inipun berakhir dengan perjanjian peletakan senjata antara kedua belah pihak dalam masa tiga tahun lamanya.
Di zaman Al-Mahdi ummat Islam juga memperluas dakwahnya di negeri-negeri sebelah Timur. Mereka memasuki tanah Hindustan. Mereka menghadapi beberapa pertempuran yang hebat. Mereka membakar kuil-kuil dan patung-patung Budha. Kan tetapi penjarahan ini akhirnya menimbulkan bencana besar atas angkatan perang Abbasiyah. Mereka banyak yang mati berkubur di dasar laut, karena kapal-kapal mereka habis musnah dihancurkan badai di teluk Persia.
Wafatnya Al-Mahdi
Pada 22 Muharram 169 H. (4 Agustus 785 M.) Khalifah Muhammad Al-Mahdi wafat. Ia berwasiat menurunkan pangkat Khalifah kepada dua orang putranya, yang pertama kepada Musa Al-Hadi dan kedua kepada Harun Arrasyid. Menurut wasiat Al-Mahdi itu pangkat Khalifah jatuh ke tangan Al-Hadi dan kemudian baru kepada Harun Arrasyid.






4- MUSA AL-HADI
(169 – 170 H. = 785 – 786 M.)
Sebelum Al-Hadi dinobatkan sebagai Khalifah, ia banyak mempergunakan waktunya di negeri Masyrik. Di kala ia dinobatkan ia sedang berada disana menghadapi peperangan. Peristiwa yang telah banyak dialaminya di Masyrik itu, berpengaruh besar atas perjalanan siasat, akhlak serta budinya.
Menghadapi Golongan Alawiyyin
Keluarga keturunan Ali bin Abi Thalib kaum Alawy, dimana-mana selalu berusaha hendak mencapai pangkat Khalifah, sebab menurut keyakinan mereka, pangkat itu adalah hak khusus bagi mereka. Di zaman Khalifah Musa Al-Hadi mereka mengadakan pemberontakan di Hijaz, mereka dikepalai oleh Husein bin Ali cucu dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Di Madinah Husein mendapat kemenangan. Istana Wali di kota itu diduduki, penjara dibubarkan, penghuni tahanan dilepaskan. Maka ia dinobatkan sebagai Khalifah oleh penduduk Madinah.
Husein berangkat ke Makkah dengan membawa laskarnya, disana ia bertemu dengan laskar Abbasiyah yang dikirim Khalifah Musa Al-Hadi dibawah pimpinan panglima Muhammad bin Sulaiman. Pada suatu tempat bernama Wadi-Fuch, terletak antara Makkah dan Madinah, maka terjadilah peperangan hebat antara kedua laskar itu, Husein bin Ali beserta beberapa kerabat serta laskarnya mati terbunuh.
Peperangan di Wadi-Fuch itu tidak kalah hebat dengan peperangan Karbala. Pengaruhnya sangat besar pada perjalanan sejarah Daulat Bani Abbas. Dua diantara keturunan Ali bin Abi Talib, yang akan menjadi saingan besar bagi keluarga Abbasiyah dikemudian hari, dapat melarikan diri dari peperangan itu, mereka itu ialah Yahya bin Abdullah yang dilantik menjadi Amir di negeri Dailamy, sedangkan saudaranya Idris bin Abdullah mendirikan Daulat Bani Idris di Maghribil Aqsa (Maroko).
Wafatnya Al-Hadi
Pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 170 H. (13 September 786 M.) Khalifah Al-Hadi wafat pada umur 26 tahun sesudah memerintah setahun tiga bulan. Dia digantikan oleh saudaranya Harun Arrasyid.
Semula Al-Hadi bermaksud akan membatalkan hak saudaranya itu sebagai Putera Mahkota dan henadak membai’at puteranya sendiri (Ja’far). Maksudnya itu disetujui oleh pembesar-pembesar istananya. Hanya seorang dari mereka yang tidak menyetujuinya yaitu Yahya bin Khalid Al-Barmaky, yang berani menasehati, agar ia mengurungkan niatnya karena Ja’far masih kanak-kanak. Apa lagi ia wajib memuliakan janji yang telah diikrarkannya ketika ia dilantik menjadi Putera Mahkota oleh ayahandanya. Akan tetapi nasehat itu tdak diindahkannya, bahkan Yahya sendiri dimasukkan dalam penjara dan akan dibunuhnya. Tapi untung maksudnya itu tidak terlaksana karena ia menemui ajalnya.
5- HARUN ARRASYID
(170 – 193 H. = 786 – 809 M.)
Khalifah yang termasyhur
Khalifah Harun Arrasyid dinobatkan sebagai Khalifah di hari wafatnya Al-Hadi. Ia adalah Khalifah yang paling terkenal diantara Khalifah Abbasiyah. Di zamannya kota Bagdad mencapai puncak kejayaannya, kemegahannya belum pernah ditemui sebelumnya.
Harun Arrasyid mengendalikan daulatnya dengan sebaik-baiknya, sehingga pemerintahannya menjadi tolok ukur oleh bangsa-bangsa sepanjang zaman. Banyak sekali riwayat dan ceritera di kalangan orang yang membuktikan kejayaan masa pemerintahannya. Diantaranya ialah dongeng ‘1001 malam’ yang terkenal itu. Ia selalu lapang dada, ia sangat santun dan kasih kepada para ulama, filosuf dan pujangga yang datang ke Baghdad dari segala penjuru dunia.
Masa itu didirikan pabrik-pabrik, gedung-gedung tempat penelitian perbintangan (Meteorolisch Observatorium), sekolah-sekolah dan lain-lain. Sehingga kota Baghdad ketika itu menjadi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perniagaan dimuka bumi ini.
Tidak ada istana kaisarpun yang seramai istana Khalifah Harun Arrasyid yang dipenuhi oleh para ulama, ahli hukum, pujangga, pengarang, penyanyi, seniman dan lain-lain dari berbagai macam golongan. Sekalian mereka juga mengadakan kerja sama dengan Khalifah Harun Arrasyid. Iapun seorang penyir dan ahli riwayat. Dia seorang yang budiman, mulia, disegani, dihormati, dicintai dan ditakuti oleh rakyatnya, dari tingkatan yang paling tinggi sampai yang paling rendah.
Diantara Khalifah-khalifah Abbasiyah hanya Harun Arrasyidlah yang pernah berjalan kaki sepanjang jalan beserta pengiringnya guna menunaikan ibadah haji di tanah suci. Peristiwa ini dipandang oleh ahli sejarah sebagai suatu perbuatan yang sangat utama dalam sejaran kepemimpinannya. Di tanah suci dia membelanjakan harta kekayaannya untuk menegakkan berbagai amal kebaikan dan kebutuhan umum, sedang permaisurinya Ratu Zubaidah tidak sedikit mengeluarkan uangnya untuk penggalian mata air yang dialirkan ke kota Makkah. Sampai kini mata air itu masih ada, bernama: ‘Mata air Zubaidah’.
Harun Arrasyid dan kaum Alawiyyin
Khalifah Harun Arrasyid sangat besar keinginannya untuk memperbaiki dan mendekatkan hubungan keluarga Abbasiyah dengan keluarga Alawiyyin. Ia terlalu bersikap lembut kepada mereka. Diantara mereka yang terpenjara di Baghdad dilepaskan. Akan tetapi kaum Alawiyyin itu sekali-kali tidak mau mengubah pendiriannya, bahwa hanya keluarga mereka sajalah yang berhak menjadi Khalifah. Apalagi hal itu sudah menjadi doktrin politik mereka. Maka dari itu tidak bosan-bosan mereka berusaha mencapai pangkat itu.

Menghadapi Yahya bin Abdullah
Di Dailam, yaitu suatu negeri di sebelah Selatan laut Kaspia, timbul gerakan kaum Alawiyyin yang dipimpin oleh Yahya bin Abdullah cicit dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Hampir seluruh penduduk Dailam mendukung gerakan Yahya itu dan nyaris membahayakan Daulat Abbasiyah.
Harun Arrasyid berusaha menindas gerakan itu. Untuk melaksanakan maksudnya itu ia memerintahkan panglima Fadhal bin Yahya al-Barmaky membawa 50.000 pasukan ke negeri itu. Fadhal meneladani sikap Harun Arrasyid, yaitu dengan bujukan yang lemah lembut. Yahya bin Abdullah dibujuknya agar berdamai dengan Harun Arrasyid.
Yahya bersedia menerima permintaan itu asal Khalifah Harun Arrasyid mau menuliskan surat jaminan keamanan jiwanya dengan tangan Rasyid sendiri, serta disaksikan oleh para fuqaha dan qadhi Baghdad serta para pembesar Bani Hasyim.
Kehendak Yahya itu dikabulkan oleh Harun Arrasyid, dan surat jaminan itu dikirimkan kepadanya beserta hadiah dari berbagai macam barang berharga.
Kemudian Yahya datang ke Baghdad beserta Fadhal, disambut oleh Harun dengan segala kehormatan dan kemuliaan. Akan tetapi tidak lama kemudian dengan beberapa pertimbangan Yahya dikurung juga oleh Rasyid di rumahnya sendiri, dengan tetap memberikan jaminan kamanan atas dirinya dicabut kembali.
Menghadapi Idris bin Abdullah
Politik Harun Arrasyid yang demikian itu dilakukan juga kepada Idris bin Abdullah. Pemuka Alawiyyin ini banyak mendapat pengikut di negeri Maghrib dari bangsa Barbar, sehingga ia dapat menegakkan kerajaan di Maroko pada tahun 172 H. (788 M.) Kerajaan itu dikenal dengan nama Daulat Bani Idris, yang berkuasa sampai pada tahun 311 H. (923 M.)
Harun Arrasyid juga mengirim seorang pembesarnya yang terkenal licin dalam politik ke Afrika, namanya Sulaiman bin Jarir. Dia diperintahkan memperhambakan diri kepada Idris dan berpura-pura membenci keluarga Abbasiyah dan pemerintahannya.
Dengan kepandaian pesuruh Harun Arrasyid itu, yang berpura-pura tulus dan tunduk kepada Idris, ia diangkat menjadi pembesar yang istimewa. Kemudian dengan sangat rahasia sekali ia memasukkan racun dalam makanan Idris sehingga ia menemui ajalnya karena penghianatan itu. Akan tetapi dengan kemangkatan itu bahaya Daulat Bani Idris belum hilang, karena pengikut Idris melantik putera bungsunya yang juga bernama Idris menjadi penggantinya.
Baru saja Harun Arrasyid selesai menghadapi kaum Alawiyyin, timbul pula kerusuhan dan pemberontakan dimana-mana, seperti di Mosul, Siria, Armenia dan Khurrasan. Walaupun kerusuhan-kerusuhan itu dapat ditanggulangi namun hal ini sangat memusingkan kepala Harun Arrasyid.

Berdirinya Daulat Bani Aghlab di Afrika
Menurut pandangan Harun Arrasyid, Afrika Utara negeri orang-orang Barbar yang selalu gelisah itu harus diberi pemerintahan sendiri dibawah perlindungan Daulat Bani Abbas. Siasat Harun Arrasyid ini akan melepaskan diri dari kesulitan menghadapi orang-orang Barbar dan untuk menghambat kemajuan Daulat Bani Idris untuk menjarahi daerah-daerah Daulat Bani Abbas.
Pada tahun 184 H. Ibrahim bin Aghlab dilantik menjadi Amir mengepalai pemerintahan disana, dengan perjanjian bahwa Ibrahim dan Amir-amir kemudian harus mengakui Khalifah-khalifah Abbasiah menjadi yang dipertuannya. Dengan demikian berdirilah Daulat Bani Aghlab di Afrika pada tahun 184 H. (800 M.) Dengan kota Kairawan sebagai ibu kotanya. Daulat ini berkuasa di Afrika sampai tahun 296 H. (908 H.).
Hubungan dengan Kaisar-kasar Tiongkok
Harun Arrasyid berniat mengekalkan keamanan di seluruh kerajaan Islam. Untuk itu ia melakukan siasat perdamaian dengan kerajan Tiongkok yang berbatasan dengan daulatnya disebelah Timur. Ia selalu bertukara hadiah dengan Kaisar-kaisar Tiongkok.
Menghadapi Byzantium
Untuk menjaga keselamatan daerahnya di sebelah Barat dari gangguan Byzantium, ia menjadikan kota Tarsus sebagai komanto laskar Islam. Kepada seorang panglimanya yang dari bangsa Turki diperintahkan menyerang orang Byzantium di Asia Kecil, karena mereka senantiasa mengganggu batas-batas Daulat Abbasiyah. Kadang-kadang Harun Arrasyid yang memimpin tentaranya ke daerah itu.
Pada tahun 181 H. Harun Arrasyid berangkat membawa angkatan perangnya menyerang Byzantium. Dalam beberapa pertempuran dia memperoleh kemenangan, sehingga ia sampai di Angora (Angkara). Sementara itu armada Islam yang di Laut Tengah dapat menduduki pulau Kreta (Kandia) dan Cyprus. Oleh karena itu Ratu Irene terpaksa mengikat perjanjian peletakan senjata dengan Harun Arrasyid dengan syarat dia harus membayar upeti tahunan kepada Daulat Abbasiyah. Akan tetapi sepeninggal Ratu, kaisar penggantinya melanggar syarat-syarat itu dan perangpun berulang kembali antara Daulat Abbasiyah  dengan Imperium Byzantium. Harun Arrasyid maju lagi mengerahkan laskarnya. Dia dapat menduduki kota Heraclius dan memaksa orang-orang Byzantium membayar Upeti. Akan tetapi mereka selalu mempergunakan waktu luang untuk menyerang negeri-negeri Islam. Oleh karena itu api peperangan antara keduanya tidak pernah padam.


Harun Arrasyid dan Karel de Grote
Berkat kebijaksanaan siasat Harun Arrasyid, ia dapat menjalin hubungan erat dengan Maharaja Perancis Karel de Grote (Charlemagne). Persahabatan itu melahirkan perjanjian, bahwa Karel akan menghadapi Bani Umayyah dan Rasyid dapat berkonsentrasi untuk menentang penjarahan orang Byzantium.
Khalifah Harun Arrasyid dan Maharaja Karel saling bertukar hadiah dan bingkisan. Diatara hadiah Rasyid kepada Karel ialah ‘jam air’ yang amat ajaib dan halus buatannya sehingga orang Eropa menyangka benda itu adalah benda sihir. Rasyid memberikan pula kepada Karel ‘anak kunci gereja raya’ di Baitul Maqdis. Kerena inilah orang Perancis di belakang hari mengklaim bahwa mereka berhak melindungi tempat-tempat suci di Palestina dan melindungi orang-orang Kristen yang pergi melaksanakan haji ke negeri itu, karena ia yang memegang kuncinya.
Keluarga Barmak
Keluarga Barmak adalah kaum bangsawan dari Persia. Seorang anggota keluarga itu, yaitu Khalid bin Barmak diambil menjadi ‘wazir’ oleh Assafah dan Al-Manshur. Khalifah Harun Arrasyid mengambil puteranya pula, yaitu Yahya bin Khalid menjadi wazirnya. Yahya dibantu oleh empat puteranya, yaitu Ja’far, Fadhal, Muhammad dan Musa. Harun Arrasyid mempercayai mereka sekalian dan menyerahkan segala urusan kerajaan kepada mereka.
Diantara putera Yahya yang berempat itu, Fadal sebagai putera sulung menjadi tangan kanan ayahandanya yang membantu dia dalam urusan yang besar dan pelik.
Fadhal disusui oleh ibunda Rasyid, sebagaimana Rasyid disusui oleh Ibu Fadhal. Maka kedua orang besar ini saudara sesusuan. Dan ketika putera Rasyid yang bernama Muhammad Amin lahir, Rasyid menyerahkan pendidikannya kepada Fadhal.
Pada tahun 176, Ja’far yang juga salah satu putera Yahya dipercayai mengamankan huru-hara di Siria pada tahun 186 H. Kemudian ia diangkat menjadi wali di Khurrasan dan sesudah itu dia diangkat menjadi Panglima Besar seluruh tentara. Pendek kata, Ja’far telah mendapat tempat yang luas sekali dalam diri Harun Arrasyid. Dia disayangi dan dihormati oleh Khalifah.



Keluarga Barmak lambang Ketinggian dan Kemuliaan
Tidak mengherankan kalau keluarga Barmak itu dicintai dan disegani rakyat. Para pujangga mengubah sloka yang indah halus memuji keluarga itu dan para biduan menyanyikan lagu yang merdu sedap menyatakan kemuliaan dan kedermawanan mereka, sehingga mereka telah menjadi ibarat dalam segala ketinggian dan kemuliaan.
Akan tetapi, sudah menjadi adat dunia, bahwa segala sesuatu tak ada yang kekal. Demikian yang terjadi atas diri keluarga yang mulia itu. Bawaan masa dan pengaruh keadaan telah menjatuhkan keluarga itu dari puncak kemujuran yang setinggi-tingginya kedalam jurang kemalangan yang sedalam-dalamnya.
Khalifah Harun Arrasyid telah merasa bahwa pengaruh dan kekuasaan keluarga Barmak telah sampai pada tingkat yang terlalu tinggi, dan sudah menyamai pengaruh dan kekuasaan Harun Arrasyid, bahkan terkesan melebihinya. Suatu ketika Harun Arrasyid meminta uang yang tidak seberapa jumlahnya kepada mereka, tapi tidak diindahkannya. Betapa tidak, semua pihak telah menghadap kepada mereka, sehingga tidak ada lagi yang tinggal pada Rasyid, kecuali dari namanya Khalifah. Kemegahan Fadhal dan Ja’far yang berlebihan menimbulkan iri hati pada sebagian orang, ditambah lagi dengan hasutan musuh-musuh keluarga Barmak kepada Rasyid dan tuduhan mereka bahwa keluarga itu telah berlaku sekehendak hatinya membelanjakan uang negara, yang menambah nyala api kemurkaan Rasyid.
Kemudian datang lagi peristiwa Yahya bin Abdullah al-Alawy. Setelah surat pengakuan aman atas diri cucu Ali itu dicabut kembali oleh Rasyid, dikurungnya Yahya di dalam istana Ja’far al-Barmaky. Akan tetapi karena sayang dan hormat Ja’far kepada kaum Alawiyyin, Yahya bin Abdullah dilepas. Tatkala hal ini diketahui oleh Harun Arrasyid maka murkalah ia kepada Ja’far. Dalam pada itu Rasyid mendapat berita bahwa keluarga Barmak telah membantu Abdul Malik bin Salih Al-Abbasi yang hendak merebut pangkat Khalifah dari Harun Arrasyid.
Jatuhnya keluarga Barmak
Segala peristiwa ini membulatkan hati Khalifah Harun Arrasyid untuk membinasakan keluarga itu. Ia memerintahkan pembunuhan atas Ja’far bin Yahya, kemudian ayahandanya beserta sekalian keluarganya serta sahabat-sahabatnya; demikian pula dengan Abdul Malik bin salih beserta keluarganya, mereka ditangkap dan dipenjarakan semuanya.
Wafatnya Harun Arrasyid
Pada tanggal 3 Jumada-tsaniah 193 H. (24 Maret 809 M.) Khalifah Harun Arrasyid wafat di markas tentaranya di Tarsus, dalam usia 47 tahun, setelah memerintah 23 tahun 2 bulah 18 hari. Sebelum wafatnya ia telah mengangkat tiga orang puteranya menjadi Amir dalam kerajaan. Kepada Muhammad Al-Amin diserahinya daulatnya bagian Barat. Kepada Abdulalh al-Makmun diserahinya memerintah Persia. Kepada Kasim diserahinya memerintah wilayah Armenia dan Aljazirah. Putera Al-Amin diangkat menjadi Putera Mahkota Pertama, sedangkan Abdullah Al-Makmun walaupun lebih tua dijadikan Putera Mahkota Kedua yang akan menjadi Khalifah setelah Al-Amin.
6- AL-AMIN DAN AL-MAKMUN
(193 – 218 H. = 809 – 833 M.)
Setelah wafatnya Harun Arrasyid, Muhammad Al-Amin dilantik sebagai penggantinya.
Al-Amin menyerahkan sekalian urusan daulatnya kepada wazirnya Fadhal bin Rabi’. Dia ini dikenal pandai memfitnah dan memperburuk orang lain. Dia dahulunya yang menghasut Harun Arrasyid untuk menggulingkan keluarga Barmak dan dia pula yang memutuskan hubungan antara adik dan kakak yaitu Al-Amin dan Al-Makmun.
Perbuatan yang mula-mula dilakukanya utnuk menimbulkan sengketa antara kedua bersaudara itu, ialah menyerahkan sekalian harta peniggalan di markas tentara Rasyid di Tarsus, kepada Al-Amin, menurut wasiat Rasyid harta itu harus diserahkan kepada Al-Makmun semuanya. Ia juga menghasut Al-Amin membatalkan baiat Al-Makmun menjadi putera mahkota kedua, dan mengangkat Ishak putera Al-Amin sebagai penggantinya. Inilah pangkal sengketa.
Lantaran hasutan Fadhal bin Rabi’ itu, Al-Amin berani melanggar perjanjian yang telah diikrarkannya pada masa hidup Harun Arrasyid. Perbuatan Al-Amin yang sedemikian itu, menimbulkan amarah orang Khurrasan dan penduduk kota-kota besar lainnya, sebab Al-Makmun mereka cintai lantaran kesalihan dan budinya.
Antara Al-Amin dan Al-Makmun
Karena hasutan itu terjadilah bencana besar dalam negeri. Api peperangan antara keduanya terjadi. Peperangan itu berakhir dengan kemenangan laskar Al-Makmun yang dipimpin oleh Panglima Thaber bin Husein. Al-Amin meninggal dalam pertempuran, dan Khilafah pindah ke Al-Makmun.
Kemenangan Al-Makmun atas Al-Amin pada hakekatnya adalah kemenangan kaum Persia atas Arab, atau kekalahan pengaruh Arab oleh perngaruh Persia. Fadhal bin Rabi’ wazir Al-Amin adalah orang Arab, sedangkan Fadhal bin Sahl wazir Al-Makmun adalah orang Persia. Karena wazir adalah kuasa Khalifah.
Di tubuh Khalifah Al-Makmun mengalir darah dan semangat Persia, karena ibunya memang berasal dari keturunan Persia. Maka tidak mengherankan kalau ia melebihkan bangsa itu dari bangsa Arab. Apalagi ia bisa merebut khilafat berkat pertolongan bangsa Persia. Oleh karena itu pengaruh bangsa Persia sangat besar pada masa pemerintahan Al-Makmun.


Menghadapi kaum Alawiyyin
Samangat dan perasaan ummat Persia sangat mendalam kesannya tas jiwa Al-Makmun. Ini adalah karena pengaruh wazirnya Fadhal bin Sahl. Oleh sebab itu, pada permulaan pemerintahannya ia mengasihi keluarga Alawiyyin, sehingga sampai ia mengambil warna biru, syi’ar kaum Alawiyyin menjadi simbol kedaulatannya, sebagai ganti warna hitam, simbol keluarga Abbasiyah. Ali Radhi Al-Alawy pemuka kaum Alawiyyin diangkat menjadi Putera Mahkota. Ia melakukannya untuk menarik hati bangsa Persia yang berkeyakinan bahwa hanya Alawiyyin yang berhak menduduki kursi Khilafah.
Pengangkatan itu dilakukan ketika ia di Khurrasan. Ketika penduduk Baghdad mengetahuinya, mereka marah dan membaiat Ibrahim bin Mahdi pamannya menjadi khalifah.
Mendengar kejadian itu Al-Makmun segera meninggalkan kota Marwa (Mevr), ibukota negeri Khurrasan dan segera berangkat ke Baghdad.
Setibanya di Baghdad warna hitam dipakainya kembali, yang merupakan syi’ar keluarga Abbasiyah. Dengan demikian ia dapat mengembalikan kepercayaan penduduk Irak umumnya dan kaum keluarganya pada khususnya. Maka Ibrahim Al-Mahdi melarikan diri meninggalkan Baghdad setelah menjadi Khalifah dua tahun lamanya. Akan tetapi Al-Makmun segera mema’afkan dan menyenangkan hatinya.
Daulat Thahiriyyah
Di zaman Al-Makmun pengaruh orang Khurrasan sangat besar, daerah itu diserahkan kepemerintahan sepenuhnya kepada Thahir bin Husein, panglimanya ketika menaklukkan Baghdad mengalahkan Al-Amin. Dengan demikian keluarga Thahir mendapat kemerdekaan berdiri sendiri (hak otonomi) memerintah Khurrasan (198 H. = 820 M.)
Perhatian Al-Makmun terhadap Ilmu Pengetahuan
Khalifah Al-Makmun adalah seorang Khalifah Islam yang arif bijaksana, lubuk akal lautan budi, mengutamakan kemerdekaan berfikir dan penelitian. Menurut pendapatnya, pertikaian dalam beberapa masalah agama menyebabkan ummat Islam terpecah belah, terbagi kepada beberapa golongan. Untuk menghindari bencana ini ia membentuk Majlis Munadharat, yang merupakan tempat membahas persoalan agama yang pelik, majlis ini bersidang dihadapan Al-Makmun sendiri dan dihadiri oleh para ulama kenamaan. Hasil pembahasan ini disiarkan kepada rakyat agar mereka melaksanakan sesuai hukum yang sama berdasar atas pendapat-pendapat yang disatukan, supaya tidak timbul perselisihan.
Usaha dan kegiatan Al-Makmun bukanlah semata-mata terbatas dalam lingkungan ilmu agama saja, bahkan sampai pada lingkungan ilmu umum dan kebudayaan. Ia berusaha keras supaya orang-orang ahli tarjamah di zaman itu bersungguh-sungguh menterjemahkan kitab-kitab asing ke dalam bahasa Arab, terutama bahasa Yunani dan Persia.
Maka banyaklah macam buku-buku pengetahuan yang dialin dan dikarang orang ketika itu, seperti kitab filsafat, kedokteran, ilmu falak, ilmu pasti, geometri, musik dan lain-lain. Ia juga mengutus rombongan ulama ke Konstantinopel untuk menterjemahkan buku-buku pengetahuan yang ada disana, ke dalam bahasa Arab.
Tidak salah kalau ahli sejarah mengatakan bahwa ummat Islamlah yang memperhubungkan ujung tali peradaban dan pengetahuan di zaman purba dengan ujung tali peradaban dan pengetahuan Barat di zaman ini.
Wafatnya Al-Makmun
Al-Makmun wafat pada 19 Rajab 218 H. (10 Agustus 833 M.) di Tarsus, ketika laskarnya sedang berperang dengan melawan tentara Byzantium. Ia wafat pada usia 48 tahun dan masa pemerintahannya 20 tahun 5 bulan 24 hari. Sebelum wafat ia telah berwasiat bahwa yang akan menggantikan dia ialah saudaranya Abu Ishak Muhammad al-Mu’tashim bin Rasyid.
7- AL-MU’TASHIM DAN AL-WATSIQ
(218 – 232 H. = 833 – 847 M.)
Suasana pemerintahan
Di zaman Khalifah Muhammad Al-Mu’tashim terjadi banyak perselisihan faham keagamaan. Perbedaan antara para ulama Islam sering terjadi dimana-mana. Namun hal ini seakan-akan disukai oleh Al-Mu’tashim.
Tentara asal Bangsa Turki
Dia selalu memperbanyak sahaya belian dari bangsa Turki sampai jumlah mereka 70.000 orang. Mereka dijadikan pasukan istimewa untuk mengawal istana. Mereka mendapat keistimewaan daripada bangsa Arab dan Persia. Hal ini menimbulkan kebencian hati panglima-panglima Islam lain kepadanya, lebih-lebih yang berbangsa Arab. Mereka sepakat menurunkan Al-Mu’tashim dari singgasana Khilafah dan menggantikannya dengan Amir Abbas bin Al-Makmun, yaitu putera saudaranya. Akan tetapi kesepakatan itu diketahui oleh Al-Mu’tashim dan seluruh panglima yang berkomplot termasuk Amir Abbas dibunuh.
Pergeseran Para Panglima
Kegagalan rencana beberapa panglima itu menyebagkan Al-Mu’tashim bertikdak keras atas panglima-panglima dari Arab dan Persia. Dengan berangsur-angsur Al-Mu’tashim mengurangi jumlah mereka dan menghapuskan namanya dari daftar tentara. Akhirnya Al-Mu’tashim hanya menyerahkan urusannya kepada panglima-panglima bangsa Turki.
Laskar Turki itu walaupun berasal dari budak sahaya dan orang tawanan, tapi mereka tahu kalau mereka bahwa mereka dikasihi dan dilebihkan oleh Al-Mu’tashim dari yang lain. Maka mereka sering berlaku sekehandak hati mereka. Untuk menghindari bencana yang lebih besar atas perbuatan serdadu dari Turki itu, Al-Mu’tashim mendirikan kota Samarra di sebelah Timur sungai Tigris. Ibu kota kerajaanpun dipindahkan ke kota baru itu.
Karena tenaga Al-Mu’tashim sebagian besar digunakan untuk menindas pemberontakan yang terjadi dimana-mana,  maka keamanan dan kedamaian beberapa daerah Daulat Abbasiyyah mulai goyah.
Karena Al-Mu’tashim sibuk dengan urusan dalam negeri tersebut maka Kaisar Byzantium memperoleh kesempatan menjarah negeri-negeri Islam di daerah Siria, bahkan melakukan pembunuhan dan pembakaran serta pengrusakan.
Kontak Senjata dengan Byzantium
Pada tahun 223 H. Al-Mu’tashim menyiapkan 200.000 laskar untuk membalas penyerangan orang Byzantium. Kekuatan balatentaranya dipusatkan di kota Tarsus. Setelah melakukan beberapa pertempuran yang hebat dan sengit, ia dapat merebut beberapa benteng orang Byzantium dan menaklukkan kota Amuria, suatu kota besar di Asia Kecil, yang terletak di daerah Galatia. Kota itu dirusak dan penduduknya banyak dibunuh, sedangkan laskarnya diberi kebebasan selama empat hari untuk merampas, membunuh dan membakar kota itu. Kaum bangsawan dan hartawan menebus jiwa mereka dengan kekayaan mereka. Dengan demikian Al-Mu’tashim dapat melepaskan daerah itu dari Kaisar Byzantium yang telah menyamun dan menjarah sesuka hatinya di daerah-daerah Islam.
Wafatnya Al-Mu’tashim dan penobatan Al-Watsiq
(227 H. = 842 M.)
Al-Mu’tashim wafat pada tanggal 18 Rabi’ul Awwal 227 H. (4 Pebruari 842 M.) sesudah ia menanamkan bibit kerusakan di bumi Daulat Abbasiyah, yaitu dengan memberikan kekuasaan kepada bangsa Turki yang akan menimbulkan pelbagai bencana di kemudian hari atas diri Daulat Bani Abbas.
Ia digantikan oleh puteranya Harun Al-Watsiq Billah. Khalifah ini meneladani ayahandanya yang memberikan keutamaan atas bangsa Turki. Pada zamannya kaum Khawarij di Hijaz dan bangsa Kurdi di Mosul menyatakan keluar dari kekuasaan Abbasiyah. Kekacauan juga banyak terjadi di tanah Arab, maka muncullah tuntutan di Baghdad agar Al-Watsiq turun tahta.
Walaupun ia tidak dapat mengamankan daerah Daulat Islam, namun ia dipuji lantaran kecintaannya dan kegiatannya memajukan ilmu pengetahuan. Di zamannya lahir beberapa orang ahli ilmu dan pujangga yang kenamaan. Diistananya sendiri diadaka suatu majlis istimewa untuk membahas dan mendiskusika beberapa persoalan agama dan negara.


Wafatnya Al-Watsiq  dan akhir masa keemasan Bani Abbas
Pada 24 Dzulhijjah 232 H. (11 Agustus 847 M.) Khalifah Harun Al-Watsiq Billah wafat pada usia 36 tahun, setelah memerintah selama 5 tahun 8 bulan 6 hari. Bersamaan dengan wafatnya berakhir pula zaman keemasan yang gemilang, zaman kebesaran, zaman kejayaan Daulat Bani Abbas dan mulai memasuki masa kelemahan dan keruntuhan Daulat itu, karena pengaruh budak-budak belian bangsa Turki. Walaupun masih terdapat 26 Khalifah lagi setelah itu namun kebesrannya sudah surut.
SEBAB-SEBAB RUNTUHNYA DAULAT ABBASIYYAH
1. Mengutamakan bangsa Asing dari bangsa Arab.
Keluarga Abbasiyah memberikan pangkat dan jabatan negeri yang penting-penting dan tinggi-tinggi, baik sipil maupun militer, kepada bangsa Persia. Mereka sebagian besar diangkat menjadi wazir, panglima tentara, wali (gubernur), hakim dan lain-lain. Oleh karena itu bangsa Arab membenci Khalifah-khalifah tersebut dan menjauhkan diri daripadanya.
2. Dendam atas keluarga Bani Umayyah dan permusuhan atas Alawyyin.
Dendam keluarga Abbasiyah menindas dan menganiaya keluarga Bani Umayyah serta perbuatan mereka memusuhi kaum Alawiyyin menambah amarah dalam hati mereka.
Keluarga Abbasiyah melakukan siasatnya yang demikian, mengakibatkan kerugian atas diri mereka sendiri. Mereka lupa bahwa berdirinya Daulat mereka juga atas bantuan dan pengorbanan besar kaum Alawiyyin dalam menjatuhkan kekuasaan Bani Umayyah.
Akibat dari permusuhan kedua keluarga besar itu, yaitu Abbasiyah dan Alawiyyin, timbulnya huru-hara dan pemberontakan hampir di seluruh pelosok negeri Islam.
3. Terpengaruh perselisihan paham agama.
Beberapa orang Khalifah Abbasiyah seperti Al-Makmun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq, sangat terpengaruh oleh bid’ah-bid’ah, perselisihan madzhab dan aliran filsafat. Hal ini menimbulkan benih perpecahan menjadi beberapa partai dan golongan. Hal ini yang menjauhkan kaum Ulama dari mereka.
4. Rapuhnya Sistim bernegara
Diantara Khalifah Bani Abbas masih ada yang memberlakukan sistim bernegara yang sangat buruk, seperti mengangkat dua Putera Mahkota, yang juga dilakukan oleh khalifah-khalifah Bani Umayyah. Hal ini yang menimbulkan banyak sengketa dan bencana yang tidak habis-habisnya dalam lingkungan kerajaan.
5. Bencana Bangsa Turki
Diantara mereka terlalu mempercayai bangsa Turki yang selalu bercita-cita hendak merebut kekuasaan Khalifah, sehingga Daulat Abbasiyah menjadi medan percaturan dan pengkhianatan serta fitnah. Hal ini yang semula dilakukan oleh Al-Mu’tashim Billah.
Sangat besar bahaya bangsa Turki itu adas Daulat Bani Abbasiyah. Beberapa oang Khalifah jatuh menjadi korban mereka. Tiang tua dan segala persendian Daulat Abbasiyah rusak binasa olehnya. Kekacauan timbul dimana-mana, sedang dari Khalifah sendiripun menjadi permainan tangang-tangan panglima-panglima Turki. Perselisihan antara tentara dan rakyat sering terjadi. Permusuhan yang terjadi antara panglima-panglima Turkipun juga menambah buruknya suasana Khlilafah.
Kelemahan pemerintah pusat di Baghdad itu menjadi peluang yang empuk bagi para pimpinan wilayah untuk memutuskan dari Khilafah di pusat, mereka mendirikan kerajaan sendiri-sendiri, sehingga pada masa itu bediri kerajaan-kerajaan kecil (imarat) dalam lingkup Daulat itu sendiri.









DAULAT-DAULAT LAIN YANG BERDIRI DI ZAMAN DAULAT ABBASIYAH
Pengaruh daulat-daulat kecil yang berdiri sendiri:
Semenjak masa kejayaan Daulat Bani Abbas maupun masa kemundurannya banyak berdiri Daulat-daulat yang memisahkan diri dari Daulat Bani Abbas.
Berdirinya beberapa daulat kecil itu, walaupun tampaknya menjadi alamat kelemahan Daulat Bani Abbas, tetapi pengaruhnya besar juga untuk kemajuan dunia Islam. Karena dengan demikian lahir juga beberapa kota besar yang menjadi pusat ilmu pengetahuan, yang menyaingi kota-kota Abbasiyah, seperti Kordoba (Cordova), al-Qahirah (Kairo), dan Bukhara. Kalau dahulunya kota Baghdad megah sendirinya sebagai pusat peradaban dan pengetahuan, maka kota-kota itupun juga menjadi kiblat para ulama dan pujangga.
A. Di Masa Jayanya
Ketika Daulat Bani Abbas masih kuat dan jaya beberapa daulat berdiri, yaitu:
1. Daulat Bani Umayyah di Andalus.
Didirikan oleh Amir Abdurrahman Ad-Dakhil bin Mu’awiyah bin Hisyam pada tahun 138 H. (575 M.), yaitu ketika Daulat Bani Abbasiyah masih muda, ia melarikan diri ke Andalus untuk menyelamatkan jiwanya dari ancaman Bani Abbas. Setibanya di Andalus ia dinobatkan menjadi Amir (raja).
2. Daulat Bani Idris di Maroko (172-311 H. = 788-923 M.).
Didirikan oleh Idris bin Abdullah, seorang keturunan Ali bin Abi Talib, di zaman Khalifah Harun Arrasyid.
3. Daulat Bani Aghlab di Tunis (184-296 H. = 800-908 M.).
Didirikan oleh Ibrahim bin Aghlab sebagai hadiah dari Harun Arrasyid kepada keluarga Bani Aghlab.
4. Daulat Tahiriyah di Khurrasan (205-259 H. = 820-872 M.).
Didirikan di zaman Khalifah Al-Makmun oleh panglimanya yang perkasa Thahir bin Husein, sebagai hadiah dari Khalifah atas jasa
B. Di Masa Lemahnya
Ketika Daulat Abbasiyah memasuki masa kemundurannya, yaitu dimasa Khalifah-khalifahnya tidak berpengaruh lagi, diwaktu kekuasaan dipegang oleh Amir-amir bangsa Turki, makin banyak daerah-daerah yang hendak melepaskan diri dari Daulat Abbasiyah.
Di Mesir:
1. Daulat Bani Toulon pada tahun (254-292 H. = 868-905 M.).
2. Daulat Bani Ikhsyid pada tahun (323-358 H. = 935-969 M.).
3. Daulat Fathimiyyah pada tahun 358 H. = 969 M.
Di Persia dan Turkistan:
1. Daulat Bani Safar (254 – 290 H. = 868 – 903 M.).
Daulat ini didirikan oleh Ya’kub bin Laits As-Safary sebagai tandingan Daulat Bani Thahir di Khurrasan, di zaman Al-Mu’taz bin Al-Mutawakkil Khalifah Abbasiyah yang ketiga belas. Mulanya tidak ada minat bagi Ya’kub untuk melepaskan diri dari Daulat Abbasiyah. Baginya cukuplah kalau ia dijadikan Amir saja oleh Khalifah Khurrasan, agar ia dapat menaklukkan negeri-negeri yang dibawahi oleh Bani Thahir. Akan tetapi setelah ia dijadikan Amir saja oleh Khalifah di Khurrasan, agar ia dapat menaklukkan Persia, bahkan sampai hendak menaklukkan daerah-daerah Khalifah sendiri.
Maksud itu tercapanya di Persia, tapi khalifah tidak bisa ditundukkan, bahkan laskarnya sendiri dihancurkan oleh tentara Khalifah Al-Mu’tamid, Khalifah Abbasiyah yang kelima belas, dan ia sendiri terpaksa mundur sampai ke Persia. Daulat ini hanya berusia 36 tahun.
2. Daulat Bani Saman (261 – 389 H. = 874 – 999 M.).
Daulat ini didirikan oleh Isma’il bin Saman, berasal dari kalangan bangsawan yang dimuliakan di Persia. Ia mulai berpengaruh dalam Daulat Abbasiyah di zaman Khalifah Al-Makmun, sehingga ia diangkat menjadi wali Turkistan. Ketika Daulat Abbasiyah memasuki masa kemundurannya, pada masa Khalifah Al-Mu’tamid, Nasru bin Akhmad cucu Saman melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad lalu mendirikan kerajaan merdeka. Daulat Samaniyah ini dapat menaklukkan daerah-daerah yang semula dikuasai oleh Daulat Safariyah.
Jasa para Amir Bani Saman sangat besar dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, khususnya kebudayaan Persia. Di zaman mereka lahir beberapa ulama yang mengarang beberapa buku pengetahuan seperti ilmu kedokteran, ilmu falak dan filsafat. Ibnu Sina seorang filosuf Islam itu mengakui bahwa perpustakaan di Bukhara ibukota Bani Samaniyah, penuh dengan buku-buku pengetahuan yang tidak ternilai harganya. Ia menyaksikan sendiri ketika ia berziarah ke negeri tersebut.
3. Daulat Bani Buaihi (334 – 447 H. = 945 – 1055 M.).
Daulat ini didirikan oleh tiga orang putera Buaihi, yaitu Ali, Hasan dan Akhmad, ketiga-tiganya memimpin negeri Dailam. Mereka mulai muncul dalam politik pada abad keempat Hijrah. Mereka mengabdi pada seorang panglima Dailam yang mempunyai pengaruh besar di negeri-negeri pesisir laut Kaspia dan di tanah Persia. Ketiga-tiganya disayangi oleh penglima itu sehingga mereka memperoleh kekuasaan memerintah di tanah-tanah sebelah Selatan Persia dan sebelah Timur Irak.
Ketika timbul huru-hara di Bahdad, Khalifah Abbasiyah XXII Al-Mustakfi minta bantuan kepada tiga orang putera Buaihi itu. Permintaan Khalifah itu dikabulkan mereka dan mereka segera datang ke Baghdad, disambut oleh Khalifah dengan segala kehormatan, lalu diserahi memegang kendali pemerintahan. Kepada Ali diberi gelar ‘Imaduddaulah’, kepada Hasan ‘Ruknud Daulah’ dan kepada Akhmad ‘Mu’izzud Daulah’.  Nama gelar mereka masuk dalam cap mata uang. Maka dengan demikian kekuasaan mereka sangat besar di kota Baghdad. Ditangan mereka terletak segala perintah dan larangan, sedangkan Khalifah hanya tinggal nama saja. Hal ini dilakukan juga untu menjaga kehormatan dan martabat Khalifah dan kedudukan para pembesarnya agar mereka tidak jatuh, walaupun memang tidak berkuasa lagi.
Putera Buaihi yang semula memperoleh kekuasaan ialah ‘Mu’izaud Daulah’ Akhmad bin Buaihi, putera bungsu. Dimasanya timbul permusuhan antara tentara Dailam dan laskar Turki, dan perselisihan antara Ahlussunnah dan Syi’ah, sehingga kota Baghdad dan beberapa kota di tanah Persia telah menjadi medan huru-hara dan permusuhan.
Kelemahan Daulat Bani Abbas ini digunakan oleh orang-orang Byzantium untuk merebut kembali daerah-daerah mereka yang telah hilang di Asia Kecil (bagian Barat Mesopotamia) dan di Al-Jazirah, bahkan mereka sampai menyeberangi sungai Euphrat dan mengancam kota Baghdad.
Lebih satu abad lamanya keluarga Buaihi memegang kekuasaan di Irak Al-jazirah, Persia dan pesisir laut Kaspia.
4. Daulat Ghaznawiyah (351 – 582 H. = 962 – 1186 M.).
5. Daulat Hamdaniyah (317 – 394 H. = 929 – 1003 M.).
6. Daulat Bani Saljuk (447 – 965 H. = 1055 – 1258 M.).